Panggilan dalam konteks hidup menggereja, adalah sebuah karunia dari Allah yang diterima dengan iman, dirawat dan ditumbuhkan, kemudian ditegaskan lewat hidup doa. Memang ini adalah sebuah karunia istimewa, ketika seseorang dapat merasakan bahwa Allah memanggilnya untuk menghidupi suatu panggilan tertentu. Maka, istilah panggilan itu tidak hanya untuk hidup membiara saja.

Dalam Gereja Katolik, Allah memanggil kita pertama-tama untuk hidup kudus, untuk menjadi sempurna seperti Bapamu yang di surga, sempurna adanya (bdk. Mat. 5:48).

Karena panggilan itu berasal dari Allah, maka Allah sendirilah yang akan menggerakkan, menginspirasi dan membantu orang-orang yang dipanggil-Nya, agar mereka dapat memilih dan memeluk status hidup apa pun dan menjalaninya dengan setia serta takun sampai akhir.

Dalam konteks hidup imamat dan hidup membiara, seringkali sulit sekali mendefinisikan apa itu panggilan. Lebih mudah membicarakan panggilan dengan istilah keinginan untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati, karena biasanya itulah awal dari kita mendengar bisikan suara panggilan Allah… lewat tumbuhnya keinginan dan kerinduan dalam hati kita.

Mengapa Allah memanggilku? Hmmm… pikiran Allah memang tidak dapat kita salami. Tapi seperti yang kita tahu dari Injil, sebelum Allah memanggil para rasul-Nya, Dia berdoa semalam-malaman. Maka, daripada bertanya mengapa, lebih baik kita mulai melangkah dengan satu keyakinan bahwa aku adalah hasil doa Yesus.

Lalu, bagaimana kita bisa yakin kalau keinginan kita untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati itu sungguh panggilan Allah?

 

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan, Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.
(Yoh, 15:16)