Berawal dari undangan Bapak Uskup, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, kepada biarawan biarawati untuk menerima tamu yaitu para Bikku yang akan datang beristirahat sejenak di Gereja Hati Kudus Surabaya, maka suster Misionaris Claris ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini pada tanggal 15 Mei 2026. Sekitar pukul 13.00 ,para biarawan biarawati dan beberapa umat sudah siap dan dengan antusias menunggu kedatangan para Bikku, yang melakukan perjalanan dari Bali menuju Candi Borobudur dan akan merayakan Hari Raya Waisak di sana. Perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual yang dinamakan Thudong, yang mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang bukannya tanpa rintangan. Perjalanan ini juga melatih diri dalam kesabaran, laku tapa, serta percaya pada  belas kasih Tuhan. Perjalanan ini mempunyai tujuan yang pasti dan membawa misi, yang adalah perdamaian, yang dirindukan oleh umat manusia.

Tahun ini, perjalanan diikuti oleh 58 orang Bikku dari berbagai negara. Dari Thailand 43 orang,  3 dari Laos, 8 dari Indonesia, dan 4 dari Malaysia. Usia Bikku yang tertua adalah 68 tahun sedangkan yang termuda adalah 23 tahun.

Dalam sambutannya, Bapak Uskup berkata, “Dalam tradisi Gereja Katolik, saat ini kita juga sedang menghidupi semangat yang disebut sebagai Sinodalitas, yang secara harafiah berarti “berjalan bersama”. Misi Gereja Katolik bukanlah berjalan sendirian dalam eksklusivitas, melainkan berjalan beriringan dengan semua orang, tanpa memandang perbedaan keyakinan, untuk mewujudkan bumi manusia yang damai, sejahtera, berbudi pekerti luhur, dan penuh bela rasa.”

Bapak Uskup mengajak kita untuk menyebarkan damai di mana pun kita berada melalui sikap selalu bersyukur, tidak mengeluh, dan dalam kerasulan senyum, seperti yang diajarkan juga oleh Beata Maria Ines, Pendiri Kongregasi Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus.

“Suasana damai dimulai dari hati yang bisa berdamai dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam semesta”, demikian Bhante Dhamasubo menambahkan. Suasana terlihat akrab dan penuh persaudaraan, wujud toleransi yang mendukung perdamaian.

Acara ini ditutup dengan doa bersama untuk perdamaian dunia dan setelah beristirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Candi Borobudur dan tiba sebelum puncak perayaan Waisak.

Dengan misi perdamaian ini, marilah kami berdoa seperti yang diajarkan oleh Santo Fransiskus:

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda