Tanggal 22 Juli 2026, saudari Marina Simatupang dan Maya Marselina Br. Perangin-angin memulai masa postulan sebagai langkah awal untuk menjadi calon anggota Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus. Terimakasih Tuhan untuk kasih dan kemurahan hati-Mu karena telah mengirim dua pemudi untuk bergabung dalam kongregasi tercinta ini.

“Inilah adik kita yang, oleh cinta belas kasihan Putra Allah, telah dipilih agar pada suatu hari menjadi mempelai-Nya dan bagaikan tunas muda telah dipindahkan ke kebun hidup membiara, agar berkembang di dalamnya atas pemeliharaan-Nya, di bawah sinar terik Matahari Keadilan, yaitu Kristus Yesus yang mencurahkan cinta dalam Ekaristi-Nya yang suci dan dalam naungan bunda-Nya yang tak bernoda, menghasilkan bunga-bunga keutamaan dan kekudusan nan indah.”

(Kecapi Hati MC, Bab I Bagian I)

Kalimat ini bukan sekadar pengantar dalam Ritus Masuk Masa Postulan, melainkan adalah gambaran indah tentang seorang gadis yang dipilih oleh kasih Allah. Seperti tunas muda yang dipindahkan ke taman yang subur, demikian pula sebagai calon biarawati meninggalkan kehidupannya yang lama untuk bertumbuh dalam kasih Kristus. Di taman kehidupan membiara, mereka dipelihara oleh Tuhan sendiri, disinari oleh Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dan dinaungi kasih keibuan Santa Perawan Maria agar hidupnya menghasilkan bunga-bunga kebajikan dan kekudusan. Mereka meninggalkan dunia yang dikenalnya, untuk tumbuh dan berkembang di bawah tangan Tuhan sendiri.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Dengan tangan saling menggenggam dan hati yang bergetar karena bahagia, mereka melangkah meninggalkan rumah yang dicintainya. Bukan karena tidak sayang, melainkan karena terpanggil untuk menuju rumah yang lebih kekal. Di dada mereka tersimpan janji yang tak terucap: “Tuhan, kami datang bukan untuk meninggalkan kasih, melainkan untuk menemukan Sang Sumber Kasih itu sendiri.”

Saat gerbang rumah kongregasi terbuka lebar, kata-kata dari Kecapi Hati bergema manis di dalam jiwa: “Seperti tunas muda yang dipindahkan ke kebun hidup membiara.” Di sana, mereka tidak menjadi asing, sebaliknya, mereka disambut oleh tangan Bunda yang hangat, bagaikan pelukan kasih yang dibawa dari Surga.

Di taman kasih itulah mereka mulai belajar rahasia indah menjadi mempelai Kristus. Setiap pagi, di hadapan Sakramen Mahakudus, mereka merasakan bagaimana Dia menyinari hati mereka seperti matahari yang memeluk bumi dengan lembut. Di bawah naungan Bunda Maria yang lembut, mereka belajar mencintai dengan rendah hati, mengasihi tanpa pamrih, dan melayani dengan tangan yang selalu terbuka.

Ada saat di mana rindu pada rumah lama datang menyapa, atau saat merasa diri belum cukup indah untuk hadir di hadapan-Nya, namun selalu ada suara lembut yang menenangkan: “Jangan takut, kekasih-Ku. Aku tidak mencari bunga yang sudah mekar sempurna, melainkan tunas yang mau tumbuh di bawah pemeliharaan-Ku.”

Saat mereka duduk di taman biara sambil merenung, hati mereka serasa menyatu dengan lagu kasih yang tak berujung. Mereka paham panggilan ini adalah kisah cinta yang paling indah yang bisa dialami manusia. Melayani bukanlah beban, melainkan cara menyambut kasih-Nya dan meneruskannya kepada sesama.

Seperti tunas muda yang perlahan tumbuh menjulang dan mekar menjadi bunga yang harum, demikianlah hati mereka kini bersiap untuk mekar dalam kebaikan dan kesucian. Bukan karena kekuatan diri sendiri, melainkan karena Dia yang menanam, Dia yang menyiram, dan Dia yang menjaga dengan kasih-Nya yang abadi.

Di sinilah janji itu digenapi: bahwa hati yang menyerahkan diri sepenuhnya akan selalu menemukan tempat paling indah di dalam pelukan Kasih yang tak pernah berakhir. Seperti kisah cinta yang tak mengenal waktu, langkah mereka hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju pertemuan kekal di mana tidak ada lagi perpisahan, hanya pelukan abadi dari Sang Kekasih, Jiwa yang selalu menanti dengan tangan terbuka. Syukur bagi-Mu ya Tuhan atas segala berkat dan kasih-Mu.

 

Sr. Maria Ermelinda Owa, M.C.

Tambahkan Komentar Anda