Tahukah Anda bahwa ajaran tentang Bunda Maria yang diangkat ke surga jiwa dan raga baru diresmikan sebagai dogma pada pertengahan abad ke-20? Tepatnya pada 1 November 1950, Paus Pius XII menggunakan wewenang tertingginya untuk memaklumkan kebenaran iman yang sebenarnya telah hidup berabad-abad dalam Tradisi Suci Gereja. Dogma ini menyatakan bahwa setelah menyelesaikan perjalanan hidup duniawinya, sang Perawan Suci langsung mengalami kemuliaan surgawi tanpa tubuhnya dibiarkan melihat kebinasaan. Pengangkatan Bunda Maria ke Surga merupakan rahmat dan anugerah Tuhan bagi Bunda Maria yang ikut serta dalam karya keselamatan dunia dengan manjadi Bunda Yesus; mendampinginya sejak kecil, mengajarkan iman, tentunya termasuk juga mengajarinya tentang Kitab Suci yang semua itu merupakan sisi dari kemanusiaan Yesus bahkan Bunda Maria setia mendampingi-Nya di jalan salib sampai wafat di Golgota. melalui kisah hidup Bunda Maria, kita melihat bahwa Tuhan telah melakukan banyak perkara besar kepadanya, maka Bunda Maria bersukacita seperti yang terungkap dalam “Magnificat”
Bunda Maria yang setia dalam mengikuti kehendak Tuhan, merupakan teladan bagi seluruh umat beriman, tak terkecuali bagi mereka yang mau mengabdikan hidupnya dalam pelayanan kepada sesama melalui kemurnian, kemiskinan dan ketaata dalam hidup membiara.
Semangat kesetiaan Bunda Maria telah menginspirasi para Suster Misionaris Claris yang dalam tahun 2026 ini merayakan pesta kaul membiara. Mereka adalah:
1.Sr. Magdalena Sutarti, M.C., bersyukur atas 60 tahun hidup berkaul,
2.Sr. Tarcisia Budi Sunari, M.C., 50 tahun hidup berkaul, dan
3.Sr. Marselina Moi, M.C., 25 tahun.
Upacara syukur ini dirayakan dalam Misa Kudus Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dipersembahkan oleh RP. Yoseph Jaga Dawan, SVD., Vikep Religius Keuskupan Surabaya, di Gereja Santo Cornelius, Madiun. Ketiga suster ini percaya bahwa mereka bisa sampai pada usia kaul sekarang ini hanya karena rahmat, kesetiaan, dan kemurahan Tuhan.

“Terima kasih karena Engkau selalu setia mendampingi langkahku, telah menjadi kekuatanku saat menghadapi tantangan dan menjadi sumber sukacita dalam setiap pelayanan”, demikian diungkapkan oleh Sr. Magdalena. Sr. Tarcisia menyampaikan, ”Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Juru Selamatku karena masih memberi kesempatan untuk menikmati hidup sampai saat ini.” Juga kata Sr. Marselina Moi, “Aku bersyukur atas setiap rahmat yang selalu menopang, membimbing, menguatkan dalam setiap kelemahan dan kerapuhan manusiawiku”
Setiap perayaan syukur hidup berkaul sejatinya merayakan kesetiaan Tuhan sendiri dalam pendampingan-Nya kepada orang-orang yang mau bekerja sama dengan-Nya untuk keselamatan jiwa-jiwa. Semoga kesetiaan Bunda Maria tidak hanya mengispirasi bagi para suster ini, namun juga menginspirasi bagi kita semua, umat beriman, dalam menjalankan kehendak Tuhan di hidup kita masing-masing. Ketika kita sudah berani dengan pertolongan Tuhan berkata “ya”, Dia akan menolong kita dan melakukan perkara besar dalam hidup kita.

“Kasih setia-Mu melimpahi jiwaku dengan rasa syukur;
kasih setia-Mu yang berlimpah,
membuat aku meletus dalam sebuah madah cinta dan syukur “
(Beata Maria Ines)
Sr. Andrea Venty, M.C.

