Jika ada yang bertanya, “ Apa cita-cita Anda?”, atau “Apa tujuan serta keinginan Anda di dunia ini?” Tak bisa dipungkiri, banyak orang yang menjawab: “Aku mau menjadi orang kaya, berhasil dalam pekerjaan, sukses dalam karier dan bahagia bersama keluarga, tidak kekurangan suatu apa pun.” Itu jawaban manusia pada umumnya dan memang demikianlah adanya. Orang berangkat bekerja pagi-pagi, pulang sore bahkan malam, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga supaya semua orang yang dicintainya dapat hidup baik. Tapi semoga kita tidak lupa, bahwa sebagai orang yang beriman kepada Kristus diajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya berhenti di dunia ini. Kebahagiaan yang sejati ada saat di mana nanti pada akhirnya kita bersatu kembali dengan Sang Pencipta yang membuat kita ada sekarang ini.

Tepat 45 tahun yang lalu, pada tanggal 22 Juli 1981, Beata Maria Ines Teresa Arias Espinosa membuktikan bahwa kebahagiaan sejati hanya ada dalam persatuan dengan Tuhan, dan bahwa kasih Tuhan tetap selamanya. Empat puluh lima tahun yang lalu, Beata Maria Ines menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia. Wafatnya di dunia merupakan awal kelahirannya di Surga. Beata Maria Ines dan para Kudus lainnya hidup dalam perjuangan setiap hari, sama seperti kita saat ini, bahkan sampai mengeluarkan air mata. Mereka telah memberi teladan bahwa segala kesakitan, penderitaan maupun kesukaran yang dialami demi Kristus akan mendapat ganjaran di Surga. Hal ini sejalan dengan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (8:18): “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

Warisan iman kepercayaan dari Beata Maria Ines ini terus berlangsung hingga hari ini. Iman yang dihayati dalam kesederhanaan dan kegembiraan sebagai anak-anak Tuhan serta diwujudkan dalam karya misi yang ingin agar semua orang selamat dan mencintai-Nya.

Beata Maria Ines menulis dalam buku Hati Misionaris Claris sebagai Kecapi, “Tugasku yang berat, yaitu menanam dalam penderitaan, dalam air mata, telah selesai; sekarang tugasku adalah menuai bersama Engkau selama-lamanya […] Ijinkanlah aku Tuhan, menjadi bagi saudari-saudariku dalam biara, bagi teman-teman sependeritaan, bintang kecil yang menerangi jalan mereka, sinar yang menghangatkan mereka; agar dari surga-Mu, aku tetap meneruskan pekerjaanku, doaku, sembah sujudku, menyuburkan benih yang telah kutanam di dunia untuk kemuliaan-Mu yang lebih besar. Demikianlah, kematian seorang biarawati suci mempersiapkan suatu panenan yang berlimpah-limpah.”

“Magnificavit Dominus facere nobicum; facti sumus laetantes”.
“Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita maka kita bersukacita.”

Terima kasih Tuhan,
untuk hidup Beata Maria Ines,
yang senantiasa memancarkan kedamaian, kegembiraan dan kasih.
Semoga kami bisa mencontoh teladannya menjadi pembawa damai
bagi setiap orang yang kami jumpai
sehingga mereka bisa mengenal dan mencintai-Mu selamanya.

Beata Maria Ines, doakanlah kami

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda