Tahun ini, pada tanggal 17 Pebruari, kita turut bergembira bersama semua saudara kita yang merayakan Imlek. Tradisi ini berakar dari kebudayaan Tiongkok kuno, berawal sejak masa Dinasti Shang (sekitar abad ke-14 SM). Imlek bukan sekadar perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga sebuah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur seperti rasa syukur, hormat kepada orang tua dan leluhur, kebersamaan keluarga, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik. Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk menghidupi budaya Imlek bukan hanya sebagai tradisi turun-temurun, melainkan juga dalam terang iman Kristiani.
Dalam semangat Gereja Katolik, budaya tidak ditolak tetapi disucikan dan diarahkan kepada Allah. Gereja menghargai setiap budaya yang mengandung nilai kebaikan, kebenaran, dan kasih. Hal ini sejalan dengan ajaran Kitab Suci yang mengatakan: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Maka, nilai-nilai baik dalam budaya Imlek dapat kita hidupi sebagai wujud iman yang nyata.
Salah satu nilai utama dalam Imlek adalah rasa syukur atas kehidupan dan rezeki yang telah diterima sepanjang tahun. Sikap ini selaras dengan ajaran Gereja yang mengajak umat untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Dalam Kitab Suci tertulis: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18). Perayaan Imlek menjadi kesempatan yang baik bagi umat Katolik untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya.
Selain itu, Imlek juga menekankan pentingnya kebersamaan keluarga dan penghormatan kepada orang tua serta leluhur. Dalam iman Katolik, menghormati orang tua merupakan perintah Allah sendiri: “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Keluaran 20:12). Doa bagi orang tua dan leluhur yang telah meninggal juga merupakan bentuk kasih dan iman akan kebangkitan, sebagaimana Gereja mengajarkan untuk mendoakan arwah agar memperoleh kedamaian abadi.
Tradisi saling mengunjungi, berbagi angpao, dan mengucapkan doa serta harapan baik saat Imlek mencerminkan semangat kasih dan berbagi. Yesus sendiri mengajarkan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Dengan berbagi rezeki dan perhatian, kita mewujudkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, menghidupi budaya Imlek dalam semangat Gereja Katolik berarti menjadikan perayaan ini sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama. Dengan memadukan iman dan budaya, kita tidak kehilangan jati diri sebagai umat Katolik, tetapi justru memperkaya iman melalui nilai-nilai budaya yang luhur.
Beata Maria Ines Teresa dari Sakramen Mahakudus, menjadi salah satu teladan kita dalam menghargai berbagai budaya. Beliau memiliki visi misionaris universal yang didasarkan pada kasih kepada Kristus Ekaristi dan inkulturasi, membawa Injil ke berbagai bangsa dengan semangat keterbukaan dan “menjadi segala sesuatu bagi semua orang”. Pendekatannya berfokus pada inkulturasi kasih Tuhan melalui sukacita, doa, dan misi, mengintegrasikan iman ke dalam budaya lokal.
Semoga perayaan Imlek selalu menjadi momen pembaruan iman, harapan, dan kasih dalam terang Kristus.
Sr. Mariana Maja, MC

