PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

Setelah empat puluh hari yang lalu kita merayakan sukacita Natal, hari kelahiran Yesus, hari ini, tanggal 2 Februari, Gereja merayakan pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Selain itu, hari ini juga Gereja merayakan Hari Hidup Bakti dan secara khusus berdoa untuk para kaum hidup bakti (biarawan/biarawati) yang telah mempersembahkan hidup mereka untuk Gereja. Pada pesta Yesus dipersembahkan di kenisah hari ini, saya merefleksikan dan mengajak kita semua untuk merefleksikan beberapa hal berikut;

Pertama: Kepercayaan

Belajar dari Maria dan Yusuf yang percaya kepada Allah. Sebagai seorang Yahudi, mereka tahu dan sadar bahwa apa yang mereka miliki sepenuhnya adalah milik Allah. Mereka tahu dan sadar bahwa Yesus yang dipercayakan kepada mereka adalah milik Allah dan sudah semestinya kembali kepada Allah. Maka mereka pun membawa Yesus ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Allah, sebagaimana yang ada tertulis dalam hukum taurat: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”.

Sebagai seorang yang memilih jalan panggilan khusus dan mempersembahkan hidup kepada Allah melalui kaul-kaul yang diikrarkan, apakah sungguh saya telah menaruh kepercayaan kepada Allah dan menyadari bahwa apa yang saya miliki saat ini, semuanya adalah milik Allah?

Kedua: Kesederhanaan

Maria dan Yusuf memberikan persembahan kepada Allah di Yerusalem berupa sepasang burung tekukur. Pada masa itu, seseorang yang memberikan persembahan berupa sepasang burung tekukur termasuk dalam golongan kelas ekonomi menengah ke bawah. Maria dan Yusuf memberikan yang terbaik yang mereka miliki untuk diberikan sebagai persembahan kepada Allah, yakni sepasang burung tekukur.

Apakah saya telah mempersembahkan diri saya, waktu, tenaga dan kemampuan saya, untuk kemuliaan Allah?

Ketiga: Kesetiaan dan ketekunan

Hana dan Simeon adalah sosok yang dimunculkan dalam bacaan pada hari ini dan yang menjadi inspirasi bagi kita semua karena kesetiaan mereka dalam menantikan kedatangan sang Mesias. Simeon dan Hana setiap hari tanpa henti berdoa di bait Allah dan juga berpuasa. Tindakan ini merupakan olah rohani yang mendalam. Mereka memberikan diri dan waktu mereka dengan tekun dan setia untuk menantikan dengan penuh pengharapan kedatangan sang Mesias. Mereka tidak datang ke bait Allah hanya sebagai suatu kewajiban dan kemudian buru-buru pulang. Karena relasi yang mendalam dengan Allah, mereka tahu ketika Maria dan Yusuf datang bersama Yesus, bahwa “Anak” inilah yang sebenarnya dinanti-nantikan oleh seluruh bangsa.

Bagaimana dengan saya? Apakah saya tekun dan setia dalam menantikan kehadiran Allah dalam hidup saya dengan melakukan latihan-latihan rohani tanpa terburu-buru? Apakah saya mengenali kehadiran Allah dalam hidup saya?

Semoga melalui pesta Yesus dipersembahkan di kenisah yang kita rayakan hari ini, membantu kita untuk semakin menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah milik Allah. Dengan demikian, kesadaran yang penuh cinta, kita persembahkan segala apa yang kita miliki saat ini; hidup, karya dan tugas kita, kehendak serta niat-niat kita untuk kemuliaan Allah.

 

Sr. Fina, M.C.

Tambahkan Komentar Anda