Renungan Lukas 9:18-19
Ayat 18 dari Injil Lukas ini sangat mengesankan dan mendorongku untuk bertanya juga kepada Yesus: “Siapakah aku ini di hadapan-Mu, Tuhan?” Dalam perjalanan hidup, aku seringkali jatuh, sehingga terdorong untuk bertanya kepada Tuhan, apakah Dia mencintaiku dan sungguh memanggilku? Kejatuhanku itu membuatku tidak sadar kalau Yesus sangat mencintaiku. Bagiku, Yesus adalah Allah yang selalu memberiku kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengenal Dia.
Mengenal Yesus memang tidaklah gampang. Yang dituntut dari kita adalah keterbukaan terhadap rahmat-Nya yang maha agung itu. Yesus adalah Allah yang bernaung dalam hati kita yang papa ini. Walau hati kita tidak sempurna, tetapi dalam pengharapan, saat kita bangun setiap pagi, Yesus akan menyempurnakannya.
Yesus sendiri tahu bahwa keadaan sulit dan penuh penderitaan, namun kita diutus-Nya untuk berkarya dalam lingkungan di mana pun kita berada. Sering kali dalam perjalanan kita ingin lari demi mencari kenyamanan diri sendiri, ingin berbalik ke belakang dan menegok masa lalu, dan akhirnya jatuh dalam godaan. Dalam refleksi ini, marilah kita belajar dari Yesus sendiri, untuk lebih dalam lagi mengenal Allah yang tanpa batas mencintai kita yang miskin ini.
Para murid Yesus juga bertanya, “Siapakah kami ini?” Murid yang senantiasa siap sedia mendengarkan kata-kata Gurunya, walau kadang mereka pun keras kepala. Mereka sadar akan ketidaklayakan mereka, namun mereka juga tahu bahwa Tuhan sendirilah yang memilih dan memampukan mereka menjadi murid yang setia.
Tuhan jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu. Tuhan, Engkau sendiri memberikan jaminan keselamatan bagi kami dalam peziarahan hidup setiap hari, dengan berpegang teguh pada janji-Mu. Kuatkanlah hati kami, anak-anak-Mu ini, dengan semangat baru dalam peziarahan pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Tuhan, jangan biarkan hati kami terus bertanya-tanya dalam keraguan, namun dengan semangat baru, sadarkanlah kami bahwa Engkau selalu menuntun dan mendampingi, agar segala sesuatu yang kami lakukan adalah demi keselamatan jiwa-jiwa.
Beata Maria Ines mengatakan bahwa melalui karya dan perutusan, semakin kita banyak berbuat baik, maka semakin bertambahlah keutamaan-keutamaan yang membawa kita pada kekudusan.
Jangan biarkan hati, budi dan pikiranmu jauh dari Tuhan. Berpeganglah dengan teguh pada-Nya , sebab Tuhan itu baik
Sr. Maria Elma Theana, M.C.

