Pada bulan September yang bagi umat Katolik adalah Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN), di seluruh jagad Indonesia Raya ini ‘dihebohkan’ oleh kehadiran salah satu tokoh besar dunia yaitu Bapa Suci Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia dan Kepala Negara Vatikan, dalam kunjungan singkatnya, tanggal 3 – 6 September 2024. Kehadirannya di Indonesia adalah sebuah perjalanan pastoral mengunjungi umat Katolik yang hanya 3% dari jumlah penduduk negara yang mayoritas Muslim ini.

Kita sering mendengar ungkapan “menjadi Kitab Suci yang hidup”, yang kiranya sangat tepat disandang oleh Paus Fransiskus. Tentu masih melekat dalam ingatan kita ketika Kunjungan Pastoralnya di Indonesia, melihat penampilan beliau yang amat sangat sederhana, seperti: naik pesawat komersial, menggunakan mobil yang dipakai masyarakat Indonesia pada umumnya dengan jendela terbuka supaya tangan dapat melambai dan memberkati semua orang yang berada di sepanjang jalan yang dilewatinya. Senyum tulus dari wajah penuh damai selalu diberikan kepada siapa saja yang melihatnya. Kata-kata ramah, bijaksana, menyejukkan hati mengangkat asa yang lemah, tapi juga tegas dalam hal-hal yang tidak benar dan memecah belah, disampaikan dengan penuh wibawa. Bukankah ini adalah cara hidup Tuhan kita Yesus Kristus? Paus Fransiskus sudah menerapkan cara hidup Tuhan Yesus itu dalam dirinya. Bagaimana dengan kita, saudara dan saudariku?

‘Nama adalah identitas’. Paus Fransiskus yang memilih nama St. Fransiskus dari Asisi adalah satu pilihan spiritual dan pastoral yang kaya dan subur dalam pemaknaannya. Kisah hidup dan pribadi St. Fransiskus Asisi telah menjadi ilham bagi Bapa Suci untuk menakhodai ‘Gereja bagai bahtera mengarungi zaman’ dengan pancaran kekuatan semangat kemiskinan, gelora kesederhanaan dan jiwa persahabatan yang teduh dengan semesta. Dalam ‘miskin dan sederhana’ terdapat roh dan jiwa yang lepas bebas-merdeka. Tubuh tidak terbelenggu dalam kelekatan harta, raga tidak gelisah penuh cemas, hati tidak berontak bahwa selalu kurang dan kurang, mengeluh!

Mari kita ingat kisah pemuda kaya yang dengan sedih meninggalkan Tuhan Yesus karena banyak hartanya! (bdk. Mat. 19:16-26). Dia terjebak dengan harta yang fana sehingga sulit mendapat harta surgawi. Bukan berarti harta duniawi tak bernilai, tetapi dia akan bernilai kalau dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya. 

Paus Fransiskus tidak hanya secara verbal bersuara demi keadilan, solidaritas, perdamaian, hidup bersama dalam persahabatan, bahkan dengan lantang menyerukan stop perang dan segala ketamakan yang merusak lingkungan. Beliau juga menunjukkan dalam sikap dan perilaku yang sudah kita saksikan secara khusus selama berada di negara kita. Yang paling menjadi buah bibir masyarakat Indonesia adalah kesederhanaannya, sehingga dengan tegas tetapi sopan ‘menolak mewah’ agar tidak ada jarak yang jauh dengan siapa saja yang mau mendekatinya.

Ada ungkapan: “Luar biasa nonton di TV, Paus sederhana, diapresiasi beberapa tokoh Muslim Indonesia dan mereka sangat kagum”. Ungkapan lain: “Saya bangga menjadi Katolik”, ini diucapkan oleh orang-orang Katolik yang menghayati imannya dengan baik dan benar, tanpa menunjukkan bahwa imannya yang paling benar!

Kita murid-murid Yesus zaman ini harus tetap di jalur bersama Yesus, yang mesti lepas bebas dari hati penuh kelekatan yang menggelisahkan. Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikuti Yesus (Luk. 14:25-33). Meneladan Paus Fransiskus yang telah berhasil menepati Sabda Kitab Suci dengan menjadi ‘Kitab Suci yang hidup’, kita pun harus berani keluar dari zona nyaman demi ‘menyelamatkan sesama dan dunia’.

Mari kita refleksi diri: “Sudahkah saya hidup sederhana? Apakah saya seorang yang konsumtif? Bagaimana seleraku terhadap harta benda yang saya gunakan: yang biasa saja asal berfungsi dengan baik, atau saya selalu memilih yang high class? Beranikah saya stop hidup hedon? Mampukah saya menghayati cara hidup Tuhan Yesus?”

Marilah dengan pertolongan Rahmat Tuhan kita berjuang menata diri, sehingga selalu berada di jalur bersama Tuhan Yesus. Amin.

 

Sr. Margareta Maria Alakok Bhia, M.C.

Tambahkan Komentar Anda