Semoga semua orang bertobat, ya Tuhan, dan semoga semua orang mencintai-Mu; tetapi segera! Hatiku tidak tahan lagi melihat segala kemuliaan, yang seharusnya diberikan kepada-Mu, Tuhanku, dirampas oleh jiwa-jiwa yang diciptakan menurut citra gambaran-Mu, karena mereka tidak mengenal Engkau.

Yesus Tuhanku, Engkaulah yang telah menaruh dalam diriku kedahagaan yang membakarku ini, keinginan yang tak tertahan untuk mencintai Engkau, kerinduan yang berkobar-kobar untuk membawa nama-Mu yang kudus serta cinta-Mu kepada segala bangsa di dunia. …bawalah aku! Aku mau mengurbankan bagi-Mu semua yang kucintai, meninggalkan segalanya untuk Engkau, mengurbankan diri dalam hati Bunda Maria DEMI KESELAMATAN JIWA-JIWA

(dari tulisan Beata Maria Ines, Lira del Corazón)

Itulah kerinduan hati dari seorang Beata Maria Ines; kerinduan yang berkobar untuk keselamatan jiwa-jiwa. Dengan berani, dia mengutus putri-putrinya pergi ke seluruh dunia, ke tempat-tempat di mana nama Yesus belum dikenal. Inilah kisah tiga misionaris yang bekerja di daerah misi.

Sr. Christina Indriani, M.C. (misionaris di Korea Selatan)

Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus mulai berkarya di Korea Selatan sejak tahun 1987. Saat ini karya yang dilakukan oleh suster-suster MC di Korea Selatan adalah melayani Misa Kudus setiap hari Minggu dalam Bahasa Inggris bersama dengan orang asing, baik yang bekerja maupun yang belajar di Korea Selatanl; memberi katekese bagi umat yang ingin menerima Sakramen; mengadakan kegiatan bersama kelompok Van Clar, kelompok muda-mudi mahasiswa universitas; dan melatih serta memimpin paduan suara di Paroki. Saat ini kami hanya memiliki satu komunitas di daerah Daejeon, dan suster yang asli berkebangsaan Korea Selatan ada 4  orang.

Misi di sini adalah misi yang penuh tantangan, dalam arti bahwa misionaris dari berbagai kongregasi yang datang ke korea untuk bisa berkarya di paroki atau di tengah masyarakat seringkali ‘tidak dianggap’, dibandingkan jika yang berkarya adalah romo atau suster yang asli orang Korea. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari para misionaris untuk menjadi pewarta dan saksi Kristus bagi bangsa ini.

 

Sr. Petrova Nataliia Evgenievna, M.C. (misionaris di Rusia)

Misionaris Claris hadir di negara yang beragama mayoritas Kristen Otodoks ini sejak  tahun 1994. Meskipin di negara Rusia sendiri ada berbagai macam agama, namun masih ada juga orang-orang yang tidak beragama dan menyembah patung. Misionaris Claris hadir di tengah-tengah mereka untuk memperkenalkan cinta dan belaskasih Allah melalui karya di bidang katekese dengan mengajar anak-anak, remaja dan orang tua di Paroki. Ada juga kelompok “Lectio Divina” yang terdiri dari para pelajar asing dari Afrika, Colombia, Perancis, dan Slovakia. Hingga saat ini, kami memiliki tiga orang suster asli Rusia. Sedang yang berkarya di sini saat ini ada beberapa suster yang berasal dari Mexico dan Slovakia. Mereka terbagi di dua komunitas, yaitu di Saratov dan Pyatigorsk.

Tantangan di misi ini antara lain, minimnya jumlah imam dan religius, sehingga pelayanan kepada umat belum maksimal. Diperlukan banyak waktu untuk mengunjungi umat yang berada di daerah yang jauh. Beberapa imam harus menempuh jarak 200 kilometer untuk mencapai paroki mereka dan bahkan seorang imam bisa menanggung dua paroki. Dengan keadaan seperti ini, tidak jarang mereka mengalami kesepian. Semangat doa dan cinta pada Tuhan, itulah yang membuat mereka bertahan di medan yang sulit.

 

Sr. Ines Sinaga, M.C. (misionaris di Vietnam)

Sebagai seorang misionaris yang diutus ke tanah misi Vietnam ini, saya melihat dan menyadari bahwa sebetulnya banyak umat yang mencintai Tuhan dan haus untuk mengenal Tuhan. Bahkan di negara komunis ini pun mereka menunjukkan rasa cinta dan hormat kepada Tuhan melalui cara hidup menggereja mereka. Ternyata di tempat ini Tuhan sangat dicintai dalam perayaan Ekaristi. Bahkan di depan setiap rumah orang yang beragama katolik, mereka letakkan patung orang kudus.

Yang  mejadi suatu tantangan bagi saya adalah adanya batasan-batasan dari pemerintah untuk para religius, sehingga kita harus bijaksana dalam menjalankan tugas misi ini. Selain itu, masalah bahasa yang bagi saya juga sulit. Tetapi dengan rahmat Tuhan, saya akan terus maju hingga Dia meraja di Vietnam.

 

Demikianlah kisah singkat karya kerasulan dan tantangan di daerah misi. Para misionaris adalah penabur benih Sabda Tuhan. Siapa yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorai-sorai, demikianlah kata Pemazmur (Mzm. 126:5).

Maria, Ratu para misonaris, doakanlah kami!

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda