Jumat Agung kali ini membawa saya untuk lebih banyak merenungkan kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus, melalui peristiwa Salib. Meski tidak mengikuti Ibadat Jalan Salib bersama umat di gereja karena alasan kesehatan dan harus beristirahat di rumah, saya lebih banyak mempunyai waktu bersama Yesus, menemani-Nya dalam saat-saat yang menggetarkan. Tanpa saya sadari, saya terbawa oleh suasana kesendirian yang dialami Yesus, dan saat itu, Yesus seperti membisikkan tentang empat kalimat yang Dia ucapkan dari atas Salib, yang bagi saya pribadi merupakan anugerah istimewa.
Empat perkataan itu ada dalam Injil Lukas. Pertama, memberi penghiburan kepada orang lain, meski Dia sendiri berada dalam situasi sulit. Penghiburan ini diberikan kepada wanita-wanita Yerusalem yang menangisi Yesus di jalan menuju Golgota. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak egois, Dia tidak dikuasai oleh penderitaan-Nya. Penderitaan-Nya tidak membuat-Nya lemah, apalagi sampai menghalangi Dia untuk berbuat sesuatu yang baik bagi orang lain.
Kedua, mengampuni orang yang sudah sangat menyakiti-Nya sampai habis-habisan. Hal ini tampak dalam perkataan Yesus dengan seruan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Dari sinilah kita dapat melihat dengan jelas, kasih Allah yang begitu luar biasa. Yesus tidak membalas, mengutuk, atau berkata jelek tentang orang-orang yang membuat-Nya sangat menderita. Yesus mampu menunjukkan kasih pengampunan bagi kita, yang juga ikut menyalibkan Dia dengan perbuatan jahat yang kita lakukan terhadap sesama; dendam, amarah, kesombongan, keserakahan, dan dosa-dosa lain yang menjadi cambukan dan pukulan paku yang bertubi-tubi ke dalam tubuh Yesus. Puaskah hati kita?
Ketiga, membuka pintu pertobatan bagi manusia di saat-saat terakhir hidupnya. Anugerah ini sebenarnya bukan saja diberikan kepada salah satu penyamun yang bertobat, yang ada bersama Yesus ketika bergantung di kayu salib, melainkan kepada setiap kita yang mau mengakui kesalahan kita dengan rendah hati dan mau berbalik ke jalan Tuhan, niscaya Tuhan pun akan memberikan anugerah itu kepada kita dengan berkata; “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan berada bersama Aku di dalam Firdaus”. Sebab bagi Tuhan, tidak ada kata terlambat untuk mengenal Tuhan dan bertobat, meski di saat-saat terakhir dari hidup kita, karena Kerahiman Tuhan itu tidak terbatas.
Keempat, berserah total meski penderitaan semakin menyiksa. Kita tahu bahwa kata-kata terakhir Yesus adalah seruan nyaring kepada Bapa, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku”. Hal ini menunjukkan sebuah tanda kepasrahan total, penyerahan diri seutuhnya. Yesus ikhlas menjalani ini semua, karena Dia percaya akan rencana Bapa sampai akhir hidup-Nya.
Maka, menjadi kekuatan bagi kita bahwa, rasa sakit, penderitaan, air mata akibat pengkhianatan, bukanlah sebuah penghalang dan akhir bagi hidup kita. Sang Juru Selamat selalu menemani dan menguatkan kita karena Dia sendiri pun telah mengalami, bahkan yang lebih menyakitkan. Semua penderitaan itu akan digantikan dengan hari Paskah yang cerah, sukacita yang tak terkatakan. Semoga penderitaan Tuhan mampu membawa kita menikmati dan mensyukuri suasana sukacita Paskah, karena kebangkitan Yesus adalah sejarah keselamatan kita. Amin!
“Selamat memasuki masa Paskah,
Biarlah sukacita kita terpancar sebagaimana cahaya lilin Paskah yang dinyalakan pada Malam Paskah…”
Getrudis Triance Riti (Novis Suster MC)

