Ketika Bunda Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel, bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, adakah itu sesuatu yang menggembirakan? Menyenangkan? Membuat sukacita? Sementara kondisinya saat itu, usia Maria masih sangat belia dan bahkan belum bersuami. Malaikat Allah yang datang secara tiba-tiba saja sudah membuat terkejut, jatung terasa mau lepas. Ada berbagai macam reaksi kita bila kaget. Misalnya saya bila kaget, malah bisa membuat orang lain pun ikut kaget.

Kedatangan Malaikat Gabriel yang tiba-tiba, belum lagi salam yang diucapkannya, secara manusiawi mungkin kita akan bereaksi, “Apa sih yang sedang dikatakannya itu?”, atau berbagai pemikiran lain. Saat itu tentu kedatangan Malaikat Gabriel secara tiba-tiba dan salam yang diucapkan membuat Bunda Maria terkejut dan takut. Apalagi pesan utama yang disampaikan oleh Malaikat. Namun, yang terjadi adalah penyerahan diri secara total seorang belia pada apa yang Tuhan kehendaki atas dirinya. Maria bersedia menerima tawaran dari Allah dan bersedia untuk bekerja sama demi nyatanya kemuliaan Allah Bapa.

Yang dapat kita lakukan saat ini, tentulah tidak se-ekstrem apa yang telah dilakukan oleh Bunda Maria, kita dapat melakukan hal-hal sederhana di keseharian kita, entah itu di lingkungan tempat tinggal, komunitas, atau di tempat kerja. Kita tentu membutuhkan orang lain. Sepandai, sehebat atau sebanyak apa pun talenta yang Tuhan percayakan kepada kita, tetap kita butuh orang lain. Di dalam hidup bersama inilah kita semua saling melengkapi. Ketika kita berlomba-lomba untuk menyingkirkan ego dan ambisi pribadi, melakukan penyangkalan diri, berbuat cinta kasih atau kurban-kurban tersembunyi. Tentu ini akan membuat komunitas kita menjadi tempat yang selalu kita rindukan, dan menimbulkan sukacita bagi semua saudari-saudari kita, kita tidak perlu menuntut orang lain yang melakukannya, tapi dari pribadi kita masing-masing harus ada kemauan dan kerja sama dengan apa yang sesungguhnya Allah kehendaki dalam diri pribadi kita. Tentu Allah akan memampukan kita untuk melakukannya, seperti halnya dengan Bunda Maria, yang akhirnya dapat menjalankan dengan sempurna apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidupnya.

Semoga teladan Bunda Maria dapat membuat kita mampu untuk terus berjuang melakukan melulu apa yang menjadi kehendak Allah bukan kehendak pribadiku sendiri. Dan yakinlah kebahagiaan, serta sukacita itu akan kita dapatkan pula.

 

Sr. Lidwina Kartika, M.C.

Tambahkan Komentar Anda