Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata belas kasih, yang berarti suatu ungkapan kasih kepada orang lain yang sedang menderita ataupun mengalami kesusahan. Kata belas kasih juga memiliki arti pengampunan. Dalam Kitab Suci kita sering mendengar kisah Yesus yang melakukan tindakan kasih kepada orang lain, di antaranya :
- Menyelamatkan wanita yang tertangkap basah berbuat zinah (Yoh. 8:2-11)
«Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.”»
- Menyembuhkan seorang yang sakit kusta (Mat. 8:1-4)
«Aku mau, jadilah engkau tahir»
- Membangkitkan anak tunggal seorang janda di Nain (Luk. 7:11-17)
«Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis”»
Jika kita menghayati kata-kata Yesus itu, maka akan terasa belas kasih-Nya yang besar kepada manusia. Bahkan sampai saat Dia tergantung di kayu salib pun, Yesus mengampuni penjahat yang bertobat.
Hari Minggu kedua sesudah Hari Raya Paskah ditetapkan Gereja sebagai Hari Minggu Kerahiman Illahi. Di sini kita diajak untuk merenungkan betapa besar kasih dan kerahiman Allah kepada manusia. Seberapa pun jahat dan besar dosa manusia, tidak menghentikan rahmat kerahiman Allah kepada manusia yang hanya menginginkan kebahagiaan dan kedamaian manusia. Setelah Yesus wafat, para murid pasti merasakan ketakutan dan keputusasaan. Namun Yesus datang dan berkata, “Jangan takut!“, “Damai bagimu…”. Yesus datang membawa harapan dan kekuatan kepada para rasul, meyakinkan mereka bahwa Yesus hidup, menang atas maut, dan Yesus mau supaya para rasul pergi ke seluruh dunia membawa kabar gembira ini, mewartakan belas kasih dan kerahiman Allah yang tidak pernah berhenti. Yesus mengundang kepada semua orang untuk datang kepada-Nya. Seperti Bapa yang dengan setia menunggu anak bungsu yang pergi, Yesus dengan tangan terbuka mau menyambut semua orang yang bertobat. Dia mau merangkulnya kembali dan memberi kelegaan serta kebahagiaan. Sungguh besar belas kasih dan kerahiman Allah.
Beata Maria Ines pun memiliki pengalaman akan belas kasih Allah, sehingga menulis, ”Ya Yesus… sebab saat itu Engkau memanggil aku bagi-Mu tanpa peduli akan kekurangan-kekuranganku, rasa terima kasihku, dosa-dosaku yang amat banyak, pelanggaran-pelanggaranku. Engkau mau supaya aku menjadi kepunyaan-Mu seutuhnya, dan karena itu aku hendak menyanyikan kasih setia-Mu selama-lamanya, aku ingin memiliki seribu suara supaya suara itu sampai ke ujung dunia, untuk berkata kepada semua orang, betapa manis Engkau bagi mereka yang mencintai-Mu. Bagaimana Engkau merindukan agar semua anak-anak-Mu yang hilang, yang malang, yang belum mengenal Engkau, datang kepada-MU” (bdk. Catatan Pribadi f. 501).
Dua orang berjalan ke Emaus
Tanpa kata tanpa aktivitas
Mari datang pada Yesus
Kerahiman dan belas kasih-Nya tanpa batas
“Aku hendak menyanyikan kasih setia-Mu selama-lamanya” (Beata Maria Ines)
Sr. Andrea Venty, M.C.

