Benarkah waktu itu berharga? Berapa? Seribu, seratus, sejuta atau… tentunya masing- masing kita akan tahu jawabannya dan dapat mengisi sendiri karena kesibukan kita yang berbeda-beda. Memiliki prioritas tentunya juga sangat menolong kita untuk memanfaatkan waktu dengan lebih baik. Minggu ini memiliki hari-hari liburan yang cukup panjang atau biasa di sebut long weekend. Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi yang jatuh di hari Senin dan juga cuti bersama di hari Selasa, maka liburan di mulai sejak Jumat sore hingga Selasa.
Hari ini Sr. Felis dan saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi saudari kami yang sedang sakit di Bandung. Kesempatan yang kami gunakan juga untuk menikmati fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah yakni Whoosh “Kereta Api Cepat” yang baru diresmikan Agustus 2023 lalu oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo. Hanya dalam waktu 29 menit, kami sampai Kota Bandung, dan begitu pun sebaliknya. Durasi waktu yang singkat ini tentunya memikat banyak orang untuk menggunakan Whoosh.
Waktu yang singkat ini kami gunakan dengan sangat baik untuk berjumpa dengan saudari yang sakit. Teringat bacaan Injil hari ini (Senin, 11 Maret 2024), Yesus menyembuhkan seorang anak dari pegawai istana di Kapernaum yang sakit keras dan hampir meninggal. Namun berkat kuasa Tuhan anak itu di sembuhkan.
Melihat peristiwa ini, saya pun menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, bukan soal sesuatu yang bisa di berikan, tetapi adalah soal waktu. Semua hal yang kita lakukan tentunya membutuhkan waktu. Memberi waktu yang terbaik bukanlah soal panjang atau pendeknya tetapi soal kesediaan dan ketulusan.
Sebagai murid Tuhan, kita pun diminta untuk rela membagi waktu terutama dengan mereka yang membutuhkan kehadiran kita. Seperti halnya hari ini, meski hanya sebentar kami mengunjungi saudari yang sakit, namun tampak bahwa kehadiran sungguh berarti baginya. Terima kasih Tuhan untuk pengalaman hari ini. Terima kasih untuk waktu yang berharga. Beata Maria Ines doakanlah kami.
Sr. Maria Roslinda Bhoki, M.C.

