“Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian dosa-dosa kita (Yoh. 4:10).
Bapa yang penuh kasih, puji dan syukur saya haturkan kepada-Mu atas segala anugerah-Mu yang kurasakan selama ini, terutama selama 3 hari yang sangat istimewa, yaitu kunjungan Sr. Lucy López, Vikaris Jendral, dan Sr. Elisheba Tajonar. Saya merasa senang namun sekaligus takut dan khawatir karena perbedaan bahasa. Dalam hati saya bertanya, “Apakah saya bisa mengerti ketika mereka berbicara, atau sebaliknya kalau saya berbicara apakah mereka akanmengerti?”
Saat makan malam pun tiba, inilah kesempatan bagi saya untuk bertanya dan memperkenalkan diri. Saya merasakan Roh Kudus berkarya, yang awalnya takut setengah mati tapi lama kelamaan semakin akrab. Meskipun tidak bisa berbahasa Spanyol, tapi saya bisa menggunakan isyarat, dan inilah yang bisa menyatukan kami dalam persaudaraan, yakni bahasa cinta.
Dalam konferensi bersama Sr. Lucy dan Sr. Elisheba, pertama-tama kami diajak untuk merenungkan panggilan Samuel. Saya diingatkan kembali bagaimana Tuhan memanggil saya. Saya merasa diri lemah dan kurang mampu, namun Tuhan tidak melihat kelemahan saya, melainkan hati dan kesediaan saya. Kemudian kami juga diajak Sr. Lucy untuk membaca buku Ratio Formationis, dan melihat dimensi dalam formasi khususnya formasi awal, yaitu;
- Dimensi Manusiawi, yang berkaitan dengan fisik, merupakan suatu kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang bertubuh. Tanpa tubuh saya tak mungkin hidup, hadir dan berkarya di dunia ini. Tubuh membutuhkan makanan agar dapat bekerja, berpikir, dan melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki. Maka saya harus menjaga diri dengan makan makanan yang sehat dapat berguna bagi jiwa dan raga, sehingga memampukan saya untuk mencintai diri, Tuhan, dan sesama.
- Dimensi Rohani; berkaitan erat dengan sikap dan perilaku saya dalam persekutuan dengan Allah dan saudara-saudara, dalam persahabatan dengan Yesus, dan dalam sikap penuh ketaatan terhadap Roh. Dalam kehidupan sehari-hari, saya harus berelasi dengan Tuhan, dengan cara bertekun dalam doa, adorasi, meditasi, renungan dan bimbingan.
- Dimensi Intelektual; kemampuan manusia yang membuatnya menjadi berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Akal budi membuat saya dapat berpikir dan memperoleh kebijaksanaan untuk mengerti diri saya, Tuhan dan sesama.
- Dimensi Apostolik; sikap kesiapsediaan, mengarahkannya pada penyerahan diri yang murah hati pada misi. Dalam kehidupan saya, saya harus berjuang untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan meninggalkan diri sendiri, peka, dan mampu menerima dan mendengarkan suara Tuhan melalui sesama yang saya jumpai setiap hari.
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau dia tidak tinggal pada pokok, demikian juga kamu tidak berbuah jikalau kamu tidak tinggal didalam Aku (Yoh. 15:14)
Perasaan was-was dan takut, akan perjumpaan dengan para susterku, Sr. Lucy dan Sr. Elisheba, telah berganti menjadi sukacita, bahkan juga menjadi nutrisi dalam hidup panggilan saya. Ya Tuhan, terima kasih atas kasih-Mu. Engkau mengasihi aku seutuhnya. Semoga aku mampu membalas cinta-Mu.
Hati seorang biarawati Misionaris Claris dari Sakramen Maha Kudus harus menjadi sebuah kecapi, yang menghasilkan madah cinta dan syukur yang manis dan merdu, dan yang naik ke hadapan tahta Allah. Usaha paling besar sejak dia mulai hidup membiara haruslah persatuan yang erat dengan Allah, permulaan, jalan dan tujuan dari semua cita-citanya (Beata Maria Ines)
Maria Ermelinda Owa (Novis Suster Misionaris Claris)

