menjadi misionaris… bagaimana?… sampai memberikan hidup kita, bila perlu. Dimana?… di semua tempat. Kapan?… selalu. Ukurannya adalah ketaatan!
Beata Maria Ines Teresa Arias
Tulisan Ibu Pendiri ini tetap update hingga saat ini, di tengah perkembangan dan kemajuan dunia yang begitu cepat, dengan segala bentuk tantangan yang dihadapi seperti peperangan, bencana alam, dan masa pandemi, endemi Covid-19.
Namun sebagai seorang biarawati adakah kami menjadi begitu takut dan “dikerdilkan” oleh tantangan-tantangan tersebut, sehingga dapat memadamkan niat-niat awal kami di dalam menanggapi panggilan-Nya.
Memang saya adalah manusia rapuh yang tak tahu apa yang akan terjadi di menit-menit yang akan datang. Bagai sebuah perahu di tengah lautan yang diombang-ambing oleh gelombang ombak yang dapat datang tanpa diduga dan disangka-sangka.
Dengan penuh iman dan kepercayaan, tentunya Tuhan telah mencurahkan rahmat-Nya kepada saya, dan juga kepada kita masing-masing, sehingga dapat membawa kita dari ketakutan dan mawas diri kepada suatu realisasi yang diperbaharui, bahwa kita dapat menemukan diri kita sendiri justru ketika kita dapat memberikan diri kita kepada orang lain.

Inilah salah satunya yang dapat menjelaskan bagaimana menjadi seorang misionaris itu: Memberikan diri bagi pelayanan terhadap orang lain, bahkan dengan memberikan hidup, bila perlu. Artinya totalitas atau sepenuhnya, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan atau harapkan saja. Di mana kita menjalankannya? Di semua tempat, bahkan terutama di tempat-tempat yang terpencil/tersembunyi, bahkan mungkin di tempat yang tidak pernah kita bayangkan atau inginkan sama sekali. Kapan hal ini dilaksanakan? Setiap saat dan selalu. Bahkan Yesus pun mengatakan, “Barangsiapa yang akan mengikuti Aku dan ia menoleh ke belakang, ia tak layak bagi-Ku” (bdk. Luk. 9:62). Maka ketika menjadi misionaris, tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda apa yang telah diminta. Kesemuanya itu diukur dengan ketaatan. Ketaatan yang tulus dan sepenuh hati serta kegembiraan dan sukacita, seperti Yesus yang adalah Misionaris Bapa dimana hidup dan pelayanan-Nya menyatakan ketaatan yang total pada kehendak Bapa.
Untuk dapat menjalankan setiap tugas perutusan atau menjadi misionaris, hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain:
- Kehidupan Doa/Spiritual, menjadikan kehidupan doa itu sebagai suatu yang kita butuhkan sehingga di tengah semua misi/karya yang kita jalankan, doa menjadi bagaikan amunisi kehidupan spiritual kita.
- Hati seperti Yesus, yang memiliki sikap hati seorang hamba yang mau melayani, hati yang penuh belas kasih dan kepekaan untuk menjawab kebutuhan orang di sekitar kita.
- Kreativitas, dengan menggunakan kemampuan berkreasi yang telah Tuhan berikan kepada kita masing-masing untuk dapat kita bagikan kepada orang lain.
Dengan penuh iman dan kepercayaan pada kehendak Bapa serta mengandalkan kekuatan-Nya, kita semua dapat menjadi misionaris-Nya.
Sr. Lidwina Oktaria Kartika, M.C.

