Ketika dulu di SMA ada pelajaran Fisika, banyak orang yang mengeluh karena merasa pelajarannya sulit, tidak menyenangkan, dll sehingga cenderung untuk mencari alasan supaya bisa keluar kelas. Banyak orang juga menganggap bahwa fisika itu tidak penting dan tidak ada gunanya bagi hidup. Tetapi, jika kita mau mencoba untuk merenungkannya, sebenarnya belajar fisika itu mengasyikkan dan dapat memperkaya hidup rohani kita.

Mengawali permenungan ini, mari memahami terlebih dahulu apa itu energi, energi potensial, energi kinetik serta energi mekanik. Energi potensial (Ep) adalah energi yang dimiliki suatu benda karena posisi/letak/kedudukannya.  Benda yang diam menyimpan energi potensial. Besar kecilnya atau kuat lemahnya energi tersebut terletak pada posisi/letak/kedudukannya. Energi kinetik (Ek) adalah energi yang dimiliki oleh benda yang bergerak. Energi mekanik (Em) adalah energi yang dimiliki suatu benda karena posisi/letak/kedudukannya dan karena gerakannya. Secara matematis dapat dituliskan: Em = Ep + Ek. Dengan demikian, ketika energi potensial besar maka energi kinetik kecil dan sebaliknya ketika energi kinetik besar maka energi potensial kecil. Jadi, besaran energi mekanik tergantung dari energi potensial dan energi kinetik.

Sama seperti sebuah benda, setiap manusia juga memiliki energi. Kualitas energi potensial seseorang mengikuti situasi hidupnya. Energi potensial seseorang dapat dikatakan besar ketika berada pada situasi hidup yang menyenangkan, gembira, bahagia, dan segala situasi yang positif. Di sini menjadi jelas mengapa orang-orang kuat selalu berangkat dari hidup rohani yang baik: punya banyak waktu untuk berdoa, meditasi, renungan pribadi, adorasi dan banyak kegiatan rohani lainnya. Peristiwa transfigurasi di Gunung Tabor kiranya dapat mejelaskan hal ini. Petrus mengungkapkan dengan penuh semangat kerinduannya untuk tetap tinggal pada situasi tersebut. “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” 

Yesus tidak menjawab apapun. Hanya ada suara dari balik awan yang menyatakan Yesus adalah Putera terkasih Allah dan perintah untuk mendengarkan Dia. Yesus justru kembali seorang diri, tanpa ditemani Musa dan Elia serta mengajak para rasul untuk turun dari gunung itu. Situasi ini mau mengatakan, bahwa kenikmatan dalam hidup rohani bukanlah sebuah tujuan. Situasi nyaman mesti juga ditinggalkan, Sebab saat itu, kita hanya memiliki energi potensial sementara energi kinetik kita nol. Kita diharapkan menguatkan energi kinetik dengan melakukan pergerakan turun gunung, artinya; hidup nyata dalam perbuatan sehari-hari. Energi potensial yang besar tidak ada gunanya ketika kita tidak mengubahnya menjadi energi kinetik dan akhirnya akan melengkapi hidup kita menjadi energi mekanik.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah energi potensial kita menjadi energi kinetik supaya kita memiliki energi mekanik? Kita telah dikuatkan oleh sabda Tuhan, maka kita memiliki kemampuan untuk bekerja, serta memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu. Maka, segala kemampuan yang kita miliki, kita gunakan untuk bekerja tidak hanya untuk diri kita sendiri melainkan juga untuk kepentingan banyak orang. Misalnya; dengan berbagi waktu, dengan berbagi semangat, dengan berbagi cinta dan perhatian, dengan bekerja sebaik-baiknya, dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan.

Apakah energi potensial kita akan habis? Tentu saja akan habis jika kita tidak pernah mengisinya. Ketika kita jatuh pada “kehabisan waktu karena terlalu banyak berbagi” atau dalam keadaan sekarang banyak orang mengatakan habis waktu untuk “pelayanan”, sebenarnya saat itulah sebenarnya kita sudah kehabisan energi potensial. Kondisi yang demikian, dapat dikatakan energi kinetik kita besar, tetapi energi potensial kita nol. Lantas, bagaimana caranya supaya kita tidak kehabisan energi potensial maupun energi kinetik? Kita senantiasa mengisi diri dengan sabda Tuhan, membawa Tuhan selalu dalam diri kita dengan mengikuti perayaan Ekaristi, refleksi, dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan. Dengan demikian hidup rohani kita senantiasa terpenuhi, dan hasil dari hidup rohani kita, kita bagikan kepada orang lain di sekitar kita supaya mereka pun turut merasakan buah-buah hidup rohani kita.

Sr. Fina, MC

Tambahkan Komentar Anda