Refleksi dan Ucapan Syukur 25 tahun Profesi Religiusku (1997-2022)

Hidup itu adalah anugerah,

Kemanapun kita pergi, kalau Tuhan mau maka pasti terjadi,

Kejarlah Daku kau Kutangkap, merpati tak pernah ingkar janji….

Manusia memberikan kepada kita kebahagiaan hanya sekali saja,

tapi Tuhan, memberikan kebahagiaan kepada kita tak ada batasnya untuk selamanya

“Mari ikutlah Aku, mulai sekarang kamu Kujadikan penjala manusia” (Matius, 4:19)

“Segala perkara dapat kutanggung bersama Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp.4:13)

“Lakukanlah semua dengan cinta, dan jadikanlah harta untuk jiwa-jiwa” (NM)

Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah juru selamatku (Luk. 1:46)

 

D alam kehidupan manusia selalu ada pasang-surut, ada riak-riak kecil bila itu di lautan, kerikil-kerikil bila itu ada di daratan, awan hitam dan putih bila itu ada di langit. Yaa…seperti fenomena alam yang tentunya semua itu dikehendaki oleh Sang Pencipta.  Luar biasa segalanya yang terjadi, sementara manusia yang adalah ciptaan-Nya tak akan mampu menandingi-Nya. Siapakah aku ini Tuhan, sampai Engkau memilih aku?

Di awal tahapan hidup membiara, saat menjalani masa formasi, saya merasa tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan panggilan. Namun berkat cinta dan kasih dari suster pembimbing/magistra yang selalu setia dalam memberikan peneguhan kepada saya, menjadikan hati dan rasa ini luluh… dengan mengingat kembali MOTIVASI AWAL dan CINTA PERTAMA yang pernah diungkapkan. Dalam perjalanan hidup tentunya setiap pribadi memiliki kenangan indah/baik yang dapat memberikan semangat dalam hidup. Kenangan yang kurang baik pun, bagi saya, dapat memberikan semangat dalam hidup, sebab saya mau memaknai setiap kejadian secara positif bahwa itu merupakan rancangan Tuhan bagi saya.  Terimakasih Tuhan atas cinta-Mu.

Memaknai perjalanan panggilan selama 25 tahun, saya dapat sampai di sini hanya karena Cinta Tuhan, baik melalui setiap pribadi yang saya temui di dalam komunitas tempat saya tinggal maupun melalui perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang selalu mendukung, juga di tempat di mana saya mendapat tugas perutusan dan tentunya, dukungan dari seluruh keluarga besar saya yang sangat luar biasa, mulai dari kakak sampai buyut, semua bersatu hati dalam doa, dengan  semangat kesederhanaan, kekeluargaan (kegembiraan) dan kepercayaan yang dihidupi oleh keluarga saya dengan selalu penuh canda ria dan gelak tawa di saat kami berkumpul. Terimakasih keluargaku! Semoga semua selalu bersatu, tentunya juga harapan saya semoga ada yang berani untuk menjawab sapaan kasih Tuhan dalam panggilan hidup membiara. Amin.

Akhirnya aku jatuh cinta….

Awalnya aku menganggap semuanya itu hanya angan-anganku saja, atau mimpiku di siang bolong. Semasa kanak-kanak, saya selalu merasa gembira dan bahagia ketika bertemu dengan suster biarawati pada saat ikut ke gereja dengan kakak. Lebih-lebih di tempat saya tinggal ada suster orang luar negeri yang selalu ramah kepada anak-anak. Mungkin berawal dari situlah benih-benih panggilan hidup membiara tertanam dalam diriku. Waktu itu saya belum katolik. Sebenarnya saya sudah ikut pelajaran Agama Katolik (katekumen) sejak  SD, namun saat pemilihan untuk dibaptis saya selalu tidak masuk dalam hitungan. Keponakan saya yang sebaya, malahan lebih dulu dibaptis. Saya juga tidak tahu mengapa nama saya tidak ada di situ. Saya diam saja dan terus melanjutkan ikut pelajaran, pikir saya ooo… mungkin belum waktunya saya dibaptis. Tuhan belum menghendaki saya menjadi katolik. Waktu berjalan terus, sampai pada akhirnya dengan bantuan seorang frater yang sedang TOP di paroki (sekarang sudah jadi romo) saya diajukan ke katekis untuk dibaptis. Kok bisa cepat, ya karena meskipun belum dibaptis saya sudah rajin ikut kegiatan di gereja dan juga ikut pelajaran katekumen. Akhirnya keinginan terkabul. Saya dibaptis  saat usia 17 tahun dengan mengambil nama baptis “BERNADETH SOBIROUS” dan terpatri dalam hati sabda Tuhan, “Mari ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan sebagai penjala manusia” (Mat.4:19). Terpujilah Tuhan, penantian yang lama akhirnya terjawab juga!

Dari perjalanan untuk menjadi katolik yang sempat tertunda membuat saya ingat akan cinta pertama saya: Menjadi penjala manusia. Seandainya saja saya menjadi katolik lancar-lancar, atau langsung dibaptis ketika masih SD, mungkin akan lain cerita dan kisahnya. Singkat kata, saya tetap merasa bersyukur kepada Tuhan, atas tertundanya penerimaan Sakramen Permandian. Dan hal ini juga terjadi dalam perjalanan hidup panggilan saya yang juga sempat tertunda. Menunda untuk masuk biara, karena masih ingin mencari jalan lain –siapa tahu menemukan yang paling tepat–. Tapi ternyata Dia memang membiarkan saya kesana-kemari, jalansana-jalansini, untuk memberikan kebebasan dan keleluasaan berpikir bagi saya. Akhirnya, dengan bantuan kakak ipar dan salah satu suster MC saya diterima bekerja di Rumah Sakit milik para suster MC. Di situ saya menemukan tambatan hidup dan yang akhirnya memberi jawaban kepada saya. Saya menemukan karya dari para suster Misionaris Claris di Madiun, tempat bekerja dan tempat saya menemukan kembali cinta pertama saya di Rumah Sakit Santa Clara, Yayasan Panti Bagija (pada jaman saya dikenal dengan Rumah Sakit Panti Bagija). Terpujilah Tuhan akan kasih-Mu!

Segala perkara dapat kutanggung bersama dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp.4:13).

Ternyata memang betul bahwa Dia selalu menjaga dan menuntun saya, sampai saya memberanikan diri untuk menjawab sapaan kasih Tuhan dengan hidup membiara. Keluarga saya sangat terkejut karena tidak ada anggota keluarga kami yang menjadi romo/suster. Saya mulai membuat surat lamaran untuk masuk biara Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus. Gayung bersambut! Setelah semua proses selesai dan tidak ada sesuatu yang menghalangi, saya memulai masa aspiran dengan tetap bekerja di Rumah Sakit Santa Clara dan tinggal di asrama rumah sakit. Banyak kenangan manis, suka duka bersama teman-teman di asrama, yang awalnya dibuat candaan oleh teman-teman karena saya mau masuk biara, ternyata sungguh menjadi kenyataan. Terimakasih Tuhan untuk semua ini karena Engkau telah memilih aku, dari sekian banyak teman-temanku di asrama.

 “Inilah adik kita yang karena belas kasihan dari Putera Allah, telah dipilih agar pada suatu hari…menjadi mempelaiNya dan bagaikan tunas muda tekah dipindahkan ke kebun hidup membiara….(Kecapi Hati Misionaris Claris hal. 11)

Perjalanan dimulai…  Tangga 9 Januari 1994, saya mulai masa postulan dan masa novisiat yang saya jalani selama kurang lebih 3 tahun di Rumah Novisiat MC jalan Mundu No.27 Madiun. Bersama Ibu Novis dan para formator saya menjalani masa pendidikan dengan berbagai hal baru yang perlu dipelajari. Bersyukurlah senantiasa sebab Ia baik, kasih setia-Nya tetap selama-lamanya, “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes 55;8-9).  Dalam setiap peristiwa yang terjadi selama 25 tahun hidup membiara, merupakan sejarah keselamatan yang tidak boleh dilupakan. Mengapa demikian? Karena setiap peristiwa yang terjadi adalah satu kesempatan untuk dapat memberikan nilai dalam hidup. Merupakan satu persembahan yang dapat diberikan… untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa (NM)

Saya bersyukur dapat mengenal Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus, dan masuk menjadi keluarga besarnya… “Misionaris mengetahui, bahwa kebun anggur Tuhan yang tercinta itu telah diserahkan kepada pemeliharaannya, cintanya, maka dari itu makin dia insyaf akan tugasnya sebagai petani kebun anggur, makin dia sadar pula akan keperluan untuk menyiraminya dengan segala jalan adikodrati yang Tuhan sediakan baginya, serta mengingat, bahwa jika dia adalah seorang biarawati, jika dia adalah mempelai Kristus, adalah UNTUK MEMBERIKAN JIWA-JIWA KEPADANYA dalam kesuburan Illahi yang mulia itu (LC. 129). Kalimat yang dikatakan oleh Ibu Pendiri Beata Madre Maria Ines ini terasa terngiang di telinga dan menggema dalam lubuk hati. Bekerja di kebun anggur Tuhan, haruslah dengan suasana dan sikap hati yang terbuka agar mampu mendengarkan suara kasih Tuhan yang selalu menyapa setiap saat. Bersyukur juga atas komunitas dimana saya ditempatkan, yang senantiasa memberi kekuatan dan kesetiaan dalam panggilan hidup membiara saya. Tanpa mereka( para suster yang pernah tinggal bersama saya), yang adalah perpanjangan kasih Tuhan untuk masuk dalam kehidupan saya, tidak mungkin saya mampu bertahan hingga sekarang. Tuhan kami tak mampu sesuatu Engkaulah dapat segala-galanya, Hati kudus Yesus aku percaya kepada-Mu (doa dari Madre Maria Ines).

Semoga dengan percaya akan kasih Tuhan yang diberikan kepada saya, memampukan saya untuk tetap menjadi pribadi yang rendah hati, humoris, penuh kegembiraan dan bertanggung jawab dalam tugas yang diberikan melalui ketaatan. Karena dimana ada ketaatan, disitu ada rahmat.  Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah juru selamatku (Luk. 1:46).

Semoga semua orang mengenal dan mencintai-Mu, inilah balasan satu-satunya yang kuinginkan (Beata Maria Ines)

 

Sr. Bernadetha Wiwik Tiyani MC

Tambahkan Komentar Anda