Ada seorang anak bernama Fitri. Dia merupakan murid kelas 6 SD yang sangat pintar dan baik hati. Di sekolah sangat banyak teman yang menyukainya karena sikapnya tersebut. Ada pulai anak perempuan lain bernama Nita. Sikapnya berbanding terbalik dengan Fitri. Dia pintar namun sangat sombong.
Suatu hari, ibu guru mengumumkan bahwa akan ada perlombaan pidato dua minggu lagi. Ibu Yati, selaku wali kelas 6, membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin seleksi. Fitri dan Nita jelas ikut berpartisipasi. Setiap hari mereka selalu latihan membaca pidato agar lolos seleksi. Sampai hari seleksi tiba, keduanya memberikan tampilan yang sangat baik lalu dinyatakan lolos.
Saat hari perlombaan tiba, Nita terus saja membanggkan dirinya, menyatakan bahwa pasti dia akan juara, sebab dialah pemenang lomba pidato tahun lalu. Berbeda dengan Nita, Fitri tidak henti-hentinya berdoa dan berlatih, mencoba menghafal kembali teks pidatonya. Nita pun dipanggil lebih dulu. Sang juara tahun lalu itu mendadak lupa teks pidato yang sudah dihafalnya dan berdiri kaku di atas panggung karena panik dan putus asa.
Setelah itu, Fitri maju dan memberikan penampilan yang sangat bagus. Semua juri kagum termasuk Ibu Yati yang saat itu datang untuk menemani mereka. Pengumuman pun dibacakan dan, Fitri keluar menjadi juara pertama sedangkan Nita harus menahan air matanya karena dia tidak menang sama sekali.
Cerita di atas menggambarkan betapa manusia seringkali kurang menyadari akan kebaikan orang lain. Dalam Injil, kita mengenal Yesus yang begitu banyak melakukan kebaikan dan menolong orang, juga mereka yang memiliki kekurangan dalam dirinya.
Pada Perjamuan Malam Terakhir Yesus mengatakan, “Jikalau Aku tidak membasuh Engkau, engkau tidak akan mendapat bagian dalam Aku“ (Yoh. 13:8). Yesus tidak merasa jijik membasuh kaki para murid-Nya. Itu menunjukkan kerendahan hati-Nya dan Dia berharap kita, sebagai murid, meneladani Sang Guru.
Orang yang rendah hati menyadari kelebihan dan kekurangannya serta menerima diri dan orang lain apa adanya. Orang yang rendah hati mengandalkan Tuhan dan bukan kemampuannya sendiri, maka dia tetap tersenyum walau kesuksesan terasa jauh dari hidupnya. Dunia membutuhkan pribadi-pribadi berkualitas demikian. Bagi Yesus, harga diri dan kebesaran seseorang justru terlihat dari kemampuannya bersikap rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Kebesaran itu ditunjukkan dengan pelayanan yang sungguh, tanpa ingin menonjolkan diri sendiri. Kesuksesannya tidak terletak pada keinginan kuat mengejar prestasi, seperti dalam cerita di atas, sebab jika kesuksesan seperti itu yang menjadi tujuan hidup dan pelayanan kita, maka kita akan kehilangan makna pelayanan itu sendiri yang adalah untuk melayani Tuhan. Kemuliaan bukanlah hak kita tetapi hak Tuhan. Bukankah kita ini hamba? Hamba tidak mungkin memegahkan diri, karena tidak ada keberhasilan yang dapat dicapainya tanpa campur tangan Tuannya. Segala kemuliaan dan pujian hanya bagi Sang Tuan Kehidupan, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
SEMUA UNTUK YESUS, MARIA DAN JIWA-JIWA!
Elesta Nggujuk

