Pernahkah engkau renungkan untuk apa engkau menjalani hidup ini? Apakah mencari kemewahan, kenikmatan, hidup senang dan aman, mencari kenyamanan? Jika engkau membayangkan akhir hidupmu, apakah engkau akan menyesal ataukah engkau akan merasa bahagia karena telah melewati suatu hidup tanpa penyesalan?
Sebagai seorang kristen, model hidup kita adalah Yesus Kristus yang rela menderita dan wafat untuk tiap jiwa di bumi ini. Hidup-Nya adalah hidup penuh penyerahan untuk keselamatan umat manusia. Tiap orang dipanggil untuk berjalan dalam jalan kekudusan dan untuk mencapai keselamatan kekal, kembali ke Tanah Terjanji di surga. Yesus selama hidup-Nya mengajarkan cara dan jalan itu kepada umat manusia. Siapa pun yang percaya dan setia pada firman-Nya, akan beroleh hidup yang kekal. Yesus adalah Raja para martir yang menjalani kemartiran-Nya hingga wafat dengan cara yang mengerikan di kayu salib.
Hal itu yang sangat diyakini oleh seorang warga Pakistan pertama yang memperoleh gelar Hamba Allah karena kemartirannya pada usia muda. Namanya Akash Bashir. Pemuda berusia 20 tahun itu memperoleh mahkota kemartiran seperti yang telah dicita-citakannya.
Hari itu ada seorang lelaki 39 tahun yang mencurigakan menyembunyikan sesuatu di balik jaket tebalnya. Kecurigaan itu dirasakan oleh Akash yang mendorong dan mencegah pria itu untuk masuk ke Gereja St. Yohanes Lahore, Pakistan. “Saya akan mati, tetapi engkau tidak akan masuk dalam gereja”, teriaknya kepada lelaki mencurigakan itu. Lelaki itu sedari pagi mondar-mandir di depan pintu gereja dan menerobos masuk pintu utama. Seketika itu juga, Akash menghentikan lelaki mencurigakan itu.
Ledakan bom terdengar keras bersamaan dengan ketika Akash menghadang lelaki itu. Bom yang disembunyikan lelaki itu meledak bersamaan dengan hancurnya tubuh Akash. Darah mengucur dan tangan terpelanting. Itu adalah akhir dari hidup martir pertama Pakistan. Hari itu, 15 Maret 2015, Akash Bashir telah menyelamatkan lebih dari 1000 umat yang menghadiri Misa Kudus.
Dalam beberapa kali kesempatan, Akash mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi martir di negaranya sendiri. Akash bersedia mengorbankan diri asalkan Pakistan menjadi tanah yang damai dan kaum minoritas dihargai. Apa yang terjadi pada Akash merupakan keinginannya dan kehendak Tuhan padanya. Tuhan sering kali menyatakan kehendak-Nya pada hati dan batin terdalam jiwa seseorang. Jiwa itu menjadikan kehendak Illahi itu sebagai kehendak dan cita-citanya sendiri sehingga terlaksanalah kehendak Allah melalui jiwa itu.
Akash Bashir telah mengikuti Guru Ilahinya dalam jalan kemartiran dalam usia yang begitu muda. Bagaimanakah dengan kita? Apakah hidup kita diisi dengan kesia-siaan atau kefanaan? Ke manakah akan kita bawa hidup kita ini? Apakah kita tidak malu dengan orang muda yang tekun dan setia mengikuti Kristus hingga mau mengorbankan dirinya demi keselamatan orang-orang lain, kita yang disibukkan dengan berbagai macam kegiatan entah untuk belajar, bekerja, rekreasi dan bahkan relaksasi? Kebanyakan dari waktu, tenaga, intensi dan motivasi, kita arahkan untuk mengejar suatu keamanan, kenikmatan dan kenyamanan kodrat, entah di masa ini atau untuk masa depan. Tetapi, yang paling penting di hidup ini justru kerap kita lupakan, yaitu hidup dan mati untuk Kristus.
Bagaimanakah kita dapat mencapai kekudusan itu? Dengan menjadi martir dalam kehidupan sehari-hari, dengan jalan penyangkalan diri, memanggul salib dan mengikuti Yesus. Kemartiran dalam hidup sehari-hari dapat kita temukan dalam peran kita masung-masing, sesuai status hidup kita saat ini. Jalan kekudusan dan kemartiran ada dalam hidup seorang bapak, ibu, pemuda, pemudi, remaja, pelajar dan anak – anak, begitu pun dengan kaum biarawan-biarawati. Tiap orang dipanggil dalam jalan kemartirannya sendiri-sendiri dan kita semua dipanggil untuk terlibat berbagai bentuk kerasulan, pelayanan dan kesaksian hidup, sesuai dengan status hidup dan panggilan kita. Marilah kita bersiap dan berani dalam menjawab kemartiran apa pun yang ditawarkan oleh Tuhan kepada kita.
Ria Mayacita Sugembong

