Sebelum peristiwa penangkapan dan sengsara, Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai roti. Peristiwa itu terjadi pada perjamuan malam terakhir yang kita kenangkan pada hari Kamis Putih. Berikut adalah lima fakta yang mungkin belum kamu ketahui tentang Perayaan Kamis Putih.
Siapa saja yang termasuk dalam perayaan ini
Dengan dimulainya perayaan Misa Kamis Putih, berakhirlah Masa Prapaska, maka warna liturgi yang digunakan adalah putih, dan karena itulah hari ini disebut sebagai Kamis Putih.
Perayaan ini tidak hanya merupakan kenangan dari peristiwa Yesus menetapkan Ekaristi, namun dengan kata-kata “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”, kita juga merayakan kemurahan hati dan kesetiaan para imam yang telah menjawab ‘YA’ dengan menyerahkan seluruh tubuh, jiwa, hati dan hidup mereka bagi Yesus. Sebab tanpa kehadiran para imam, kata-kata Yesus tadi tidak mungkin dapat terlaksana.
Maka pada hari Kamis pagi, jika memungkinkan, setiap keuskupan merayakan Misa Krisma yang dipimpin oleh Uskup dan, seluruh imam dalam keuskupan tersebut bertindak sebagai konselebran. Mereka semua memperbaharui janji yang mereka ucapkan di hari mereka menerima tahbisan suci. Ini juga adalah wujud dari persekutuan yang erat antara Bapak Uskup dengan para imam dan pelayan Kristus.
Sebenarnya tidak hanya para imam. Dalam perayaan Misa Perjamuan Malam Terakhir, dengan ritus pembasuhan kaki, kita juga merayakan semua orang yang mendedikasikan hidup mereka secara sederhana dan luar biasa untuk melayani sesama, seperti yang diteladankan oleh Kristus, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan dirinya untuk sahabat-sahabatnya”. Jadi, kita juga termasuk dalam perayaan itu, lho.
Suasana Misa
Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan dalam dua suasana: suasana pesta yang agung, karena sukacita Ekaristi itu sendiri dan suasana kesedihan karena malam itu dimulailah sengsara Tuhan, malam di mana Yesus ditangkap, diadili dan disesah.
Maka sejak perarakan masuk, koor dan umat menyanyikan lagu dengan meriah, dengan iringan musik. Kemudian dinyanyikan pula Madah Kemuliaan sambil dibunyikan semua lonceng. Namun sesudahnya, lonceng dan iringan musik tidak lagi terdengar hingga Perayaan Malam Paska, dan suara lonceng pada waktu konsekrasi pun diganti dengan crotalus, atau biasa disebut juga keprak atau klotokan.
Pembasuhan kaki
Dalam masyarakat kita, ketika seseorang bertamu, tuan rumah, sebagai bentuk penerimaan dan kesopanan, mempersilahkan tamu itu duduk dan menyediakan, paling tidak, minuman. Pada jaman Yesus, bentuk keramahan dan penerimaan tuan rumah ditunjukkan dengan menawarkan untuk mencuci kaki. Di rumah orang kalangan biasa, biasanya tuan rumah menyediakan wadah berisi air agar tamu itu mencuci kakinya sendiri. Jika tuan rumah adalah orang kalangan berada, biasanya mereka memiliki hamba yang akan mencucikan kaki tamu yang datang. Membasuh kaki adalah tugas seorang hamba.
Jadi, seperti kita tahu, pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus pada perjamuan malam terakhir ingin memberi teladan tentang pelayanan yang rendah hati. Namun selain itu, pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus adalah tanda penerimaan kita masuk ke rumah-Nya, menjadi anggota keluarga-Nya, menjadi bagian dari Kerajaan Surga.
Crotalus
Alat yang terbuat dari kayu ini sebenarnya termasuk dalam jenis alat musik perkusi. Crotalus sendiri berasal dari bahasa Yunani: ‘krotalon’ yang artinya derik. Maka, kalau kamu mengetikkan crotalus di Google, yang keluar adalah semua jenis binatang ular… karena crotalus adalah genus ular. Alat ini berbunyi dengan cara diputar dan menghasilkan suara yang, bisa dikatakan, kurang nyaman di telinga.
Selama pekan suci, di gereja-gereja kuno, alat ini pun digunakan untuk memanggil umat beriman datang ke perayaan Ekaristi, maka tentunya diperlukan crotalus yang lebih besar dan lebih ribut. Seperti contohnya yang ada di Katedral Pamplona, Spanyol ini.
Perarakan, bukan adorasi
Setelah komuni kudus dibagikan, imam tidak memberi berkat penutup, namun diadakan suatu perarakan Sakramen Mahakudus untuk ditahtakan di tempat yang telah disediakan, karena tabernakel dan panti imam dikosongkan, sebagai simbol dimulailah malam sengsara Tuhan Yesus. Ini merupakan kenangan para murid yang menemani Yesus dari tempat perjamuan terakhir menuju ke taman Getsemani. Jadi, karena merupakan perarakan dan bukan adorasi, maka seharusnya Sakramen Mahakudus tidak ditahtakan dalam Monstran dan perarakan berjalan tanpa henti menuju tempat pentahtaan.
Jadi, Liturgi Kamis Suci adalah undangan untuk menghayati Misteri Kristus secara lebih mendalam. Untuk dapat mengenal-Nya, kita harus duduk semeja dengan Dia, tidak hanya sebagai penonton, tapi sebagai sahabat. Sebab semua yang Yesus lakukan, dilakukannya dengan cinta terbesar karena Dia menyerahkan Diri bagi sahabat-sahabatnya.


4 Comments
Maria Densiana Jemin
Slmat sore suster,minta maaf mengganggu,,ini suster mau tanya saat konsekrasi perayaan Kamis putih apakah lonceng dibunyikan🙏trimakasih
Aan
Sy bantu jawab bu, Lonceng misdinar dibunyikan, yaitu saat lagu kemuliaan. Tapi, sesudahnya tidak lagi sampai sabtu suci. Jd saat konsekrasi lonceng digantikan keprak.
Maria Densiana Jemin
Selamat siang suster, maafengganggu, saya mau tanya, apakah saat doa konsekrasi perjamuan malam terakhir..lonceng dan mendupai di buat atau tidak? Trimakasih sebelumnya suster. Salam hormat🙏
Aan
Tidak lagi. Dlm misa kamis putih Lonceng terakhir kali digunakan saat madah kemuliaan meriah. Sesudahnya digantikan keprak. Baik di konsekrasi maupun perarakan