Pagi itu, banyak orang mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Para pekerja sudah mulai berangkat ke tempat kerja meski hari masih gelap, anak-anak dengan segera menuju ke sekolah supaya tidak terlambat, semua orang dengan urusan masing-masing mulai melakukan aktivitasnya. Namun di tengah kesibukan harian itu ada kisah yang indah terjadi.

Seorang wanita tua terlihat berada di keriuhan kegiatan hari itu dengan membawa banyak barang di tangan kirinya. Dia berusaha menyeberang, namun tidak ada yang menolongnya. Banyak orang telah melewatinya karena terburu-buru. Ani, seorang siswi kelas 8 yang melihat kejadian itu, dengan cekatan dan tanpa ragu segera berjalan menuju nenek yang sedang berusaha menyeberang itu. Dengan lembut dia berkata, “Nek, boleh saya tolong Nenek menyeberang?“ Sang nenek pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ani dengan sigap mengambil beberapa tas dari tangan nenek, memindahkan mereka ke tangannya, sedang tangan yang lain menggandeng nenek untuk berjalan, dan merentangkan tangan untuk meminta agar kendaraan yang lewat memberi jalan. Sampailah mereka di ujung jalan, berhasil menyeberang dengan selamat.

Ani sedang memberi pelajaran berarti tanpa berkata-kata, bukan mencari pujan, bukan untuk dilihat, namun hatinya tergerak untuk menolong dan melayani karena melihat kebutuhan nenek itu, dan dia segera bertindak tanpa ada yang menyuruhnya. Itulah makna pelayanan yang sejati, melayani adalah siap sedia menolong kebutuhan orang lain dan tanpa menunda waktu.

Kisah lain juga kita lihat dalam Alkitab. Yaitu Kisah Maria mengunjungi Elisabeth. Injil Lukas 1:39 berbunyi: “Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.” Kisah ini terjadi setelah Bunda Maria menerima kabar gembira dari Malaikat, hatinya penuh rasa syukur dan gembira karena mengetahui bahwa Elisabeth, saudaranya, sedang mengandung. Bunda Maria langsung berangkat, dia mau menolong saudarinya yang dia tahu pasti akan memerlukan pertolongan dari orang lain di masa tuanya yang sedang mengandung itu. Tanpa ada yang meminta, menyuruh ataupun memohon, Bunda Maria langsung berangkat ke Kota Yerikho. Bunda Maria tidak menghitung perngorbanan yang dia lakukan untuk berjalan ke Yehuda yang tentunya juga sangat berat baginya yang juga sedang mengandung Yesus. Pelayanan sejati membawa sukacita bagi orang lain.

Seperti juga yang diajarkan oleh Beata Maria Ines, pelayanan sejati timbul dari rasa syukur dan sukacita karena merasa dicintai oleh Tuhan, “Putri-putriku, berulang kali aku selalu menganjurkan, di setiap rumah, adanya kesatuan hati, kehendak, pelayanan dalam kegembiraan yang menjadi ciri khas tarekat: karena tugas yang dipenuhi demi cinta”

Dalam kehidupan sehari-hari banyak yang bisa dilakukan sebagai perwujudan pelayanan yang siap sedia :
-menolong pekerjaan rumah tanpa harus diminta karena peka akan kebutuhan orang lain,
-merawat keluarga yang sakit dengan kasih dan perhatian,
-segera mengampuni dan tidak menyimpan dendam,
-mengerjakan tugas dengan tanggung jawab,
-mengunjungi orang sakit.
Dengan melakukan tindakan sederhana ini kita ikut menghadirkan Kristus, yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani.

Apakah saya sudah ikut menghadirkan Kristus pada sesama dengan melayani dalam sukacita dan siap sedia ? Jika belum, apa yang akan kulakukan untuk menjadi pelayan yang siap sedia? Jika sudah, bersyukurlah karena kesempatan dan semangat melayani merupakan anugerah dari Tuhan.

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda