“Menjalani kehidupan keluarga ibarat perahu yang mengarungi lautan, melewati gelombang pasang dan surut, dihempas badai ke kiri dan ke kanan. Apa yang membuat perahu itu tetap teguh mengarungi lautan? Sebagai pasangan suami istri Katolik, kita harus menjadikan Yesus dan Ekaristi sabagai arah dan tujuan berkeluarga.” Demikian refleksi yang mengemuka dalam sesi sharing kegiatan Rekoleksi Pasangan Suami Istri Katolik Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong di Vila Rojokoe, Ruteng, Manggarai (Sabtu, 29/03/2025). Kegiatan rekoleksi ini adalah satu dari serangkaian acara menyambut perayaan perak atau 25 tahun kehadiran Misionaris Claris di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Di hadapan 26 pasang suami istri Katolik yang hadir, RD. Blas Harmin, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng, menyampaikan beberapa gagasan pokok tentang keluarga sejahtera: keluarga memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar; anggota keluarga berada dalam kondisi sehat fisik dan mental; keluarga memiliki semangat untuk maju dan berkembang baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun sosial; dan mandiri, yaitu keluarga mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istri Anda, sebagaimana Kristus lakukan kepada Gereja-Nya. Dengan cara yang sama, kehidupan keluarga adalah suatu jalinan relasi yang terkadang rumit dan tidak selalu mudah. Situasi itu menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan karya Roh Allah, yang dapat membuat hati manusia bertobat, mengubah sikap dan membuat anggota keluarga mampu mencintai sebagaimana Kristus mencintai.
Beberapa hal sederhana dalam konteks keluarga di jaman di mana ‘bersliweran’ informasi ini, Romo Blas menyampaikan bahwa dalam keluarga sebaiknya jangan terburu-buru dalam memutuskan sesuatu, karena kalau terburu-buru itu adalah kerja isi otak dan bukan isi hati. “Jangan bergantung pada ilusi atau tidak berdasarkan perencanaan keluarga. Kita berjalan dalam cinta, bukan jatuh dalam cinta. Cinta harus rasional”, lanjut Romo Blas.
Terkait pendidikan anak, yang diwariskan keluarga kepada anak bukanlah harta atau pun uang, melainkan identitas. Identitas terbentuk dari nilai-nilai keagaman yang diimani orang tua, yakni Yesus Kristus. Sakramen Perkawinan Katolik adalah jalan baru menuju pengudusan. Romo Blas mengutip Paus Fransiskus: “Setiap kali seorang ayah dan ibu menyambut kehidupan dan menghargainya, setiap kali mereka saling memaafkan dan melanjutkan perjalanan mereka, mereka membawa surga ke bumi. Karena pada saat itulah Roh Kudus bertindak di dalam mereka.” Kekudusan suami istri tercermin dalam sikap dan tindakan yang penuh kasih dalam mendidik anak. Stop kekerasan terhadap anak, stop aborsi, stop judi, adalah pesan yang titipkan kepada peserta.

Acara rekoleksi yang berlangsung selama 6 jam ini ditutup dengan Misa Kudus dan Adorasi. Kegiatan berlangsung penuh sukacita diiringi puji-pujian dari kelompok Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) Ruteng. Suster Flavi, M.C., selaku pimpinan Komunitas MC Ruteng dalam sambutan singkatnya menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan Rekoleksi Pasutri ini dan mengharapkan agar nilai-nilai yang didapatkan bisa diwujudkan dalam membangun keluarga Katolik yang sejahtera.
Thomas Aquino Hikmat

