Melihat judul tulisan, kita pasti berpikir kalau ini sebuah hal biasa yang harus dilewati oleh semua insan yang hidup di atas muka bumi ini. Iya bisa demikian!

Marilah dalam permenungan dengan tema: LAHIR-HIDUP-MATI kali ini, kita bersama-sama melihat, tidak sekedar sebuah proses yang biasa, melainkan sesuatu yang bermakna jauh lebih dalam!

Kata LAHIR akan kita hubungkan dengan KELAHIRAN TUHAN YESUS, yang walau pun dalam RUPA ALLAH mau mengosongkan diri, merendahkan diri menjadi seratus persen manusia, untuk MENEBUS manusia dari DOSA yang memutuskan hubungan manusia dengan Allah.

Kelahiran kita, yang adalah buah cinta dari bapak dan ibu kita masing-masing, sangat diharapkan, direncanakan, dipersiapkan dengan baik. Setelah melewati proses tumbuh-kembang secara jasmani maupun rohani dalam pendampingan orangtua dan keluarga, maka kita sampai pada saat HIDUP mandiri: dalam keluarga, dalam biara dan secara profesi.

Sebagai putra-putri dari Beata Maria Ines, ada baiknya kita juga belajar dari riwayat kelahiran, masa muda, proses panggilan membiara, cita-cita dan semangatnya, suka-duka dalam perjuangan hidupnya, dan bahkan perannya untuk kita dan Gereja ketika sudah tidak berada secara fisik di dunia ini. Beata Maria Ines adalah tokoh panutan yang sangat menonjol dalam keutamaan menuju Tuhan (Teologal): Iman-Harap-Kasih, dan keutamaan manusiawi lainnya. Betapa banyak dapat kita teladani dari hidup orang kudus, yang setia serta tekun berusaha melaksanakan kehendak Allah sepanjang hidup mereka.

Baca autobiografi Beata Madre Maria Ines: https://misionarisclaris.org/beata-maria-ines/ 

            MATI, bagi kita orang Katolik, adalah sebuah perjumpaan definitif dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah MATI dan BANGKIT demi keselamatan umat manusia. Kematian, bagi kita, bukanlah akhir dari kehidupan di dunia, melainkan adalah awal kehidupan abadi. Kita sudah harus mempersiapkan diri untuk masuk dalam Kehidupan sesudah kematian badani ini sejak selagi masih hidup di dunia fana ini, melalui semua perbuatan baik, yang banyak kali menuntut korban dan penyangkalan diri. Seperti Tuhan Yesus, para kudus dan terutama Beata Maria Ines, marilah kita mempersembahkan hidup kita dan segala perbuatan baik dengan murah hati, tulus, penuh cinta dan dedikasi. Semoga Tuhan memberkati usaha kita, dan Bunda Maria yang berjalan bersama kita senantiasa mendoakan kita. Amin.

Renungan ini dibuat dalam rangka ulang tahun kelahiran Beata Maria Ines ke-120, dan Kelahiran dalam Keabadian ke-43.

 

 Sr. Margareta Maria Alakok Bhia, M.C.

Tambahkan Komentar Anda