Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, baru saja kita merayakan Paskah Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus yang menjadi dasar iman kita, sebab “kalau Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita” (bdk. 1 Korintus 15:14).
Setelah perayaan Paskah ini, Liturgi Gereja melalui bacaan-bacaannya menampilkan Yesus yang telah bangkit dan para murid yang mengalami berbagai situasi yang membahagiakan, misalnya mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan Yesus seperti ketika Dia berjalan di atas air. Setiap pengalaman bersama Yesus yang dialami oleh para murid menjadi pembelajaran yang indah bagi kita yang juga sedang dalam proses menuju perjumpaan dengan Yesus dalam keseharian hidup kita.
Banyak orang mengatakan bahwa lebih mudah menyadari kehadiran Yesus di saat-saat yang membahagiakan daripada di waktu yang sulit atau kurang menyenangkan. Mungkin ada benarnya, tetapi tidak kalah penting disadari bahwa situasi yang kurang menyenangkan pun merupakan momen yang istimewa untuk kita dapat merasakan kehadiran Yesus.
Dalam Injil Yohanes 6:16-21 diceritakan, “Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah mulai gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui”.
Suatu hari, saya mendengarkan renungan ini dan saya sangat tertarik karena sangat menyentuh konteks hidup saya pada hari-hari itu. Dalam permenungan itu digarisbawahi beberapa ayat dari perikop di atas yang memang sangat indah:
- “Murid-murid Yesus pergi ke danau lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum”, dapat kita tangkap bahwa saat itu ketika para murid pergi, mereka tidak menunggu Yesus atau tidak mengajak Yesus. Mungkin mereka tergesa-gesa atau bisa jadi karena hari sudah mulai gelap maka mereka tak sabar lagi menanti maka ambil keputusan jalan meskipun Yesus belum bersama mereka. Pengalaman para murid berjalan tanpa Yesus yang membuat mereka cemas akan laut yang bergelora karena angin kencang, bisa jadi juga pernah menjadi pengalaman kita. Dalam perjalanan hidup kita masing-masing, mungkin apa yang dialami para murid ini juga pernah kita alami: mengambil keputusan berjalan tanpa Yesus karena kurang sabar menanti “waktu Tuhan”. Ada kalanya dalam rencana atau segala kegiatan yang kita lakukan, kita lupa “mengajak Yesus naik dalam perahu” kita masing-masing sehingga bila rencana dan apa yang kita lakukan tidak sesuai harapan, maka kita gelisah, cemas atau bahkan takut untuk maju.
- “Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalam di atas air mendekati perahu itu”. Ayat ini merupakan penyemangat bagi kita, bilamana dalam perjalanan kita menemukan hal-hal yang kurang menyenangkan karena alasan apa pun, tapi kita memiliki kepastian bahwa kalau Yesus menyertai maka perahu kita akan tetap mengarah ke tujuan. Yang penting tetap berani mendayung dan terus mendayung… bukan hanya untuk beberapa meter atau saat kita sudah melewati malam gelap kita berhenti mendayung… melainkan “dua tiga mil jauhnya”, yang dapat kita maknai sebagai ketekunan yang tanpa batas, terus menerus, tidak pantang menyerah. Semangat ini merupakan semangat khas Beata Maria Ines. Beliau tidak pantang menyerah dalam keadaan apa pun. Kepercayaannya tanpa batas dan bagi beliau, rintangan atau kesulitan itu justru menjadikan doanya lebih mendalam, persatuannya dengan Yesus makin kuat. Kalau kita bahagia karena segalanya berjalan baik, semua orang juga melalui jalan itu, tetapi kalau dalam peristiwa gelap dan dalam kesulitan sekecil dan sebesar apa pun kita tetap berani berjuang, atau dalam bahasa Injil Yohanes ini “mendayung”, maka Yesus pasti akan menampakkan wajah-Nya kepada kita, membantu kita dalam perjuangan dengan rahmat-Nya. Marilah kita juga berusaha untuk tidak bosan-bosan mendayung perahu kita. Beata Maria Ines mengibaratkan dirinya sebagai “perahu kecil” dan Yesus sebagai nahkodanya.
- “Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui”. Setelah para murid berani mendayung dan bahkan sampai dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus. Kemauan untuk “menaikkan Yesus ke dalam perahu” hidup kita akan sangat menentukan kualitas perjalanan kita untuk mencapai tujuan. Yang penting adalah menyadari kehadiran-Nya, bukan hanya di saat-saat yang membahagiakan tetapi justru pada waktu kita berada dalam kesulitan sebagaimana dialami oleh para murid kala mereka dihempas badai dan topan. Tidak ada pengalaman yang tidak menyenangkan bilamana kita mengundang Yesus hadir dan berjalan bersama kita. Bahkan apa yang tampak mustahil bagi manusia atau kita sendiri tidak percaya akan Tuhan genapi, “…dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui”.
Keyakinan akan penyertaan Yesus dan kemauan kita untuk mengundang Dia dalam setiap peristiwa hidup akan mebuat segala peristiwa kita bermakna, tapi bukan berarti tanpa perjuangan. Saya berterima kasih dan bersyukur pada Yesus karena setelah mendengar renungan ini, saya dikuatkan untuk berjuang dan tetap mendayung. Setiap perjuangan akan mendewasakan saya dalam menentukan pilihan dalam hidup setiap hari. Semoga rahmat Yesus yang bangkit senantiasa menyertai kita untuk setia bertekun dan pantang menyerah manakala kita dihadapkan pada suatu tantangan. Tuhan Yesus memberkati dan kiranya Bunda Maria, Bunda yang setia menemani Yesus sampai di salib, juga menjadi bintang yang menyuluh jalan kita. Bersama pemazmur marilah kita senantiasa berseru: “Kita memuji Allah karena besar cinta-Nya” (Mazmur 33).
Sr. Yuliana Antin, M.C.

