Permintaan ini diajukan beberapa orang Yunani kepada Filipus, yang ketika disampaikan kepada Yesus, justru hendak menunjukkan diri-Nya dengan memperlihatkan kematian-Nya. Sejenak saya berpikir dan bertanya-tanya, apakah Tuhan Yesus tidak merasa takut dengan rangkaian peristiwa kematian-Nya mulai dari ditangkap, disiksa, diolok-olok, diludahi, dicambuk, diseret, bahkan disangkal oleh murid-Nya sendiri, hingga akhirnya disalibkan.

Hari ini, bersama Gereja Semesta, kita merayakan hari Minggu Parapaskah V, yang membawa kita untuk melihat betapa Tuhan sangat mencintai umat manusia hingga merelakan diri-Nya mengalami sengsara dan kematian demi menebus dosa seluruh dunia. “Jika biji gandum tidak mati, ia tidak menghasilkan buah, tetapi jika mati maka ia akan menghasilkan banyak buah”.

Inilah pernyataan Yesus untuk seluruh umat manusia. Maka sebagai manusia yang tahu berterima kasih, kita diajak untuk mati terhadap dosa-dosa kita, terhadap sikap kita yang acuh tak acuh, kesombongan, keegoisan, segala hal yang membuat kita tidak damai dan tenang; agar tunas kedamaian dapat menghiasi kehidupan kita, komunitas dan keluarga. Kapan? Kalau bisa saat ini, mengapa harus menunda? Memang membutuhkan proses, namun saat ini adalah saat yang paling pas untuk kita bertobat. Tidak perlu menunggu, tapi mulai dari diri kita masing-masing.

Apakah kita juga seperti beberapa orang Yunani yang ingin melihat Yesus? Padahal setiap hari kita sudah melihat Yesus dan berjumpa dengan-Nya melalui Ekaristi dan sesama yang kita jumpai, hanya saja kita tidak sadar atau kurang sadar bahwa dalam pribadi mereka, juga ada Tuhan. Beata Maria Ines dalam wasiat rohaninya mengatakan kepada kita untuk “berusaha menemukan Kristus dalam diri setiap saudaraku, dalam diri setiap orang yang kuberi pewartaan, bahkan kepada mereka yang berada sangat jauh dari padaku. Bagi mereka semua Tuhan kita telah menumpahkan darah-Nya”.  

Maka Masa Prapaskah yang kurang tujuh hari lagi sebelum masuk Pekan Suci, menjadi masa yang berharga untuk kembali melihat perjalanan kita selama ini dan berjalan maju untuk, bersama Yesus, menuju Paskah yang mulia.

 

Sr. Maria Roslinda Bhoki, M.C.

Tambahkan Komentar Anda