Selama jam pelajaran, Belinda tidak tenang karena memikirkan cerita tentang St. Yosef yang menurutnya sangat menarik. Jam istirahat pun tiba. Dengan segera, dia berjalan menemui dua orang temannya.
Belinda :
Selamat siang, teman-teman. Bagaimana kisah selanjutnya dari St. Yosef? Selama pelajaran tadi saya tidak tenang mau mendengar kisah selanjutnya.
Ananta :
Mulai tertarik ya? Ngomong-ngomong kalau kalian melihat salib, apa yang terpikir secara spontan di hati kalian?
Belinda :
Saya langsung berpikir Yesus yang sangat mencintai kita sehingga Dia mau wafat untuk menebus dosa kita.
Caca :
Yesus yang Mahapengampun, karena mau mengampuni penjahat yang disalib di kiri dan kanan-Nya.
Belinda :
Yesus yang taat pada Allah, mau menerima salib dan melaksanakan kehendak Allah.
Caca :
Yesus yang baik hati karena tidak membalas orang-orang yang mengejek, menampar dan yang menyalibkan Dia.
Ananta :
Benar sekali semua yang kalian katakan tadi. Yesus yang Mahapengampun, Yesus yang taat, Yesus yang baik dan masih banyak sebutan lain lagi bagi Yesus. Kalian pernah mendengar ada peribahasa yang mengatakan: “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”, yang berarti tingkah laku anak tidak jauh dari apa yang diperbuat orangtuanya, bukan? Begitu pula dengan Yesus sebagai manusia. Semua perbuatan baik yang dilakukan-Nya tentu banyak juga terinspirasi dari sikap St. Yosef dan Bunda Maria sebagai orangtua, karena setiap hari Yesus melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan dan ucapkan. Teladan hidup yang baik dari orangtua merupakan pelajaran yang jauh lebih baik dari pada hanya sekedar kata- kata.
Tadi kalian mengatakan Yesus yang mau memberikan diri seutuhnya demi manusia yang dicintai-Nya sampai wafat disalib. Hal ini tentunya karena Dia melihat juga dalam diri St. Yosef yang sepanjang hidup memberikan diri tanpa pamrih demi Yesus dan Maria. Inilah pemberian diri yang total. St. Yosef memang tidak meninggal di salib seperti Yesus, tapi St. Yosef dengan setia, taat dan diam memanggul salibnya sehari-hari. St. Yosef memikul salib hidup di pengungsian, salib ketidakmengertian akan rencana Allah secara keseluruhan, salib kebingungan dan kebimbangan dan salib-salib yang lain. Semua dijalaninya tanpa mengeluh dan dengan penuh cinta. Waktu Yesus didera, disesah diolok, Yesus juga diam.
Yesus yang mengampuni penjahat. Pasti Dia juga melihat orangtuanya yang suka mengampuni, yang tidak pernah menyimpan dendam, yang peka dan penuh kasih pada sesamanya. Bukankah itu semua juga dilakukan Yesus selama masa hidup-Nya sebagai manusia? St. Yosef sebagai kepala keluarga tentu mengajarkan itu semua pada Yesus.
Belinda :
Iya ya, saya baru sadar sekarang, ternyata St. Yosef mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan Yesus sebagai manusia. Sepertinya masih ada lagi. Mengapa St. Yosef disebut sebagai pelindung kematian yang bahagia?
Caca :
Saya coba jawab ya. Pada katekese Paus Fransiskus di audensi umum tanggal 9 Februari 2022, beliau menjelaskan dengan baik sekali tentang St. Yosef sebagai pelindung kematian yang bahagia. Itu adalah sebuah devosi yang meyakini bahwa St. Yosef meninggal dengan didampingi oleh Bunda Maria dan Yesus. Tidak ada kebahagiaan di akhir hidup selain mengakhiri hidup dengan didampingi oleh Sang Pemilik kehidupan itu sendiri. Untuk itulah St. Yosef juga mau mendampingi orang- orang yang berdevosi kepadanya agar di akhir hidup mereka mau dengan rela menyerahkan nyawa kepada Sang Pemilik Kehidupan. Itu ada doanya lho. Begini bunyinya. “St Yosef yang kudus, lihatlah, aku memilih engkau pada hari ini sebagai pelindung istimewa dalam hidupku dan pada saat ajalku. Peliharalah dan tambahkanlah dalam diriku semangat doa dan semangat pengabdian kepada Tuhan. Jauhkanlah daripadaku segala bentuk dosa; perolehkanlah bagiku rahmat agar kematian tidak datang tanpa aku mempersiapkan diri, melainkan aku beroleh waktu untuk mengakukan dosa-dosaku dalam Sakramen Tobat dan menangisinya dengan pemahaman yang paling sempurna dan tobat yang paling tulus, agar aku boleh menghembuskan jiwaku ke dalam tangan Yesus dan Bunda Maria. Amin.”
Belinda :
Doa yang bagus.
Ananta :
Belinda, Caca, maaf ya. Sebenarnya saya masih mau cerita, tapi tadi saya dipesan, sebelum jam istirahat selesai, ada ibu guru yang mau bertemu saya. Jadi saya pamit dulu ya. Lain kali kita teruskan. Belinda dan Caca : Baik. Sampai jumpa lagi!
Sr. Andrea Venty, M.C.

