BKSN 2023

“Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku’. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya” (Luk. 22:61-62)

Kalau kita melihat pribadi Petrus, yang sebenarnya penuh dengan kegagalan dan kelemahan, kemudian kita lihat APA YANG KRISTUS PERBUAT DALAM PETRUS melalui kuasa Roh Kudus, itu akan memberi kita PENGHARAPAN YANG BESAR.

Ada empat aspek hidup Petrus yang bisa kita lihat dalam Injil. Yang pertama, Petrus adalah murid yang sangat mencintai Gurunya. Kedua, Petrus yang hidup dalam egonya. Ketiga, Petrus dalam pertobatannya; dan keempat adalah apa yang Kristus perbuat dalam diri Petrus.

Ketika Yesus memanggil Petrus, dengan segera dia meninggalkan perahu dan jalanya, dan pada saat itu juga dia mengikuti Yesus. Ketika Yesus bertanya pada para murid, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat. 16:15-17), Petrus menjawab: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Dari dua perikop ini, kita bisa lihat pribadi Petrus yang luar biasa. Dia sangat memuja Gurunya. Namun, meski dengan cinta yang sebegitu besar pun, masih belum cukup untuk Petrus mampu meninggalkan egonya.

Petrus percaya dan mengandalkan kemampuan dirinya, dia masih juga cenderung mencari kehormatannya sendiri. Ingat ketika para murid berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka? Petrus pun ada di situ! Petrus memang telah meninggalkan perahu dan jala, namun dia belum meninggalkan egonya. Padahal Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).

Sekarang mari kita lihat aspek pertobatan dalam hidup Petrus. Ingat ketika Petrus, yang atas dasar cinta pada Sang Guru, mengatakan, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama dengan Engkau!” (Luk. 22:33). Sebenarnya, Petrus memang punya intensi yang baik, dia sangat serius dan bersungguh-sungguh ketika mengatakan hal itu. Namun dia tidak sungguh mengenal dirinya sendiri. Maka di malam penangkapan itu, setelah Petrus menyangkal tiga kali, Yesus memandangnya, dan saat itulah dia sadar akan kejatuhannya; dia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Namun, justru inilah titik balik Petrus. Dia harus melewati perendahan diri terlebih dahulu.

Dan aspek keempat, yaitu apa yang dilakukan Kristus dalam dirinya melalui kuasa Roh Kudus. Petrus akhirnya menyerahkan egonya… Dirinya dipenuhi Roh Kudus. Petrus sudah bukan Petrus yang dulu lagi. Petrus yang menjadi paham setelah mengalami kegagalan dan rasa malu itu, kemudian menulis dalam surat kepada orang-orang kristen dan berkata: “Tetapi yang terutama, kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Ptr. 4:8). Kasih itu mengampuni, kasih itu melupakan. Betapa besar pelajaran yang diperoleh Petrus!

Dan Petrus yang sama itulah, yang beberapa tahun setelah itu, berani mati di salib terbalik demi Sang Guru.

Bagaimana kita bisa sampai ke pertobatan dan perubahan seperti Petrus? Hanya kasih Allah dan kuasa Roh Kudus yang mampu melakukannya. Hanya Kristus yang bisa membebaskan kita dari kuasa EGO. Namun, satu hal yang Dia minta dari kita adalah: RENDAHKANLAH HATIMU dan serahkan seluruh dirimu, total, pada-Nya!

Sr. Carla Nugroho, M.C.

Tambahkan Komentar Anda