Dalam sebuah kursus yang saya ikuti bagi para biarawati muda, sesi terakhir adalah tentang keutamaan Bunda Maria. Refleksi singkat ini saya tulis beberapa minggu setelah kursus tersebut karena, saat itu, tema tentang keperawanan Bunda Maria ini sangat menggelitik hati saya. Memang dalam refleksi ini saya menggunakan ‘kaum biarawati’ sebagai subyek, namun saya rasa, dapat juga menjadi refleksi bagi semua orang kristiani yang juga dipanggil untuk hidup murni dalam setiap jalan hidup yang dipilihnya.
Misteri keperawanan Maria ‘menuntut’, terutama kita yang telah membaktikan hidup secara total pada Allah, untuk mempraktekkan keutamaan kemurnian dalam berpikir, berkehendak, memandang, berkata-kata, dan bertindak. Keperawanan bukanlah sekedar kepolosan, melainkan kemurnian fisik dan rohani yang dipilih secara bebas. Keperawanan adalah keadaan alamiah kita, dalam arti, kita lahir, bertumbuh, dan bisa bertahan sepanjang hidup sebagai perawan.
Kemurnian sangat disukai Allah, bahkan hingga Sang Raja Abadi pun bersedia lahir ke dunia lewat rahim yang murni. Namun, kemurnian bukan satu-satunya keutamaan yang dipuji-puji Allah, sebab kemurnian saja tidak dapat menyenangkan hati-Nya. Demikian pula di masa sekarang ini, memilih untuk hanya hidup murni tidaklah cukup untuk dapat menjadi saksi kasih Kristus yang kredibel dan mampu menanggapi tantangan jaman.
Sama halnya ketika Malaikat Gabriel memberi salam kepada Maria dia tidak berkata: “Salam, hai engkau yang sungguh-sungguh perawan!”, seandainya dia datang pun kepada salah satu dari kita, dia tidak akan berkata: “Salam, hai engkau biarawati yang integral dan profesional!” Kepada Maria, Malaikat berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai!”; agar kita paham bahwa kepenuhan dari semua keutamaan dan sifat-sifat yang baik hanya diperoleh karena karunia Allah. Karunialah yang memungkinkan kita mampu hidup dalam kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan; mampu menjadi biarawati yang integral dan profesional demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.
Ya Ratu, ya bundaku!
Aku menyerahkan diriku seluruhnya kepadamu, dan sebagai bukti cinta laksana anakmu, hari ini dan untuk selamanya, kuserahkan kepadamu mata, telinga, lidah, dan hatiku; singkatnya, seluruh jiwa ragaku. Karena aku telah menjadi milikmu seluruhnya, ya Bunda yang baik, pelihara dan lindungilah aku seperti milik kepunyaanmu. Amin. (Buku Doa Suster MC)
Sr. Carla Nugroho, M.C.

