Sabtu Suci merupakan hari setelah Yesus menderita sengsara dan wafat di salib (Jumat Agung) dan sebelum malam Paskah. Sabtu Suci kerap juga disebut dengan Sabtu Sepi sebab tidak boleh ada bunyi-bunyian. Dalam Gereja tabernakel dibiarkan terbuka dan kosong, Sakramen Mahakudus disimpan di tempat lain. Lampu Tuhan juga dipadamkan. Tidak ada juga perayaan liturgi apa pun. Pada hari ini “Gereja berada dalam keheningan doa dan puasa di makan Tuhan”. Apa yang sebenarnya Gereja lakukan dalam keheningan ini?

Dalam keheningan, Gereja merenungkan misteri Kristus yang telah wafat dan berada di dalam kubur. Kematian adalah tanda kerapuhan manusia dan makam menjadi tempat yang begitu gelap dan menakutkan.

Dengan mengingat kembali misteri Inkarnasi, Yesus sunguh-sungguh menjadi sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa, bahkan turut mengalami kematian. Berada dalam kubur Yesus berarti masuk dalam hakikat kematian. Singkatnya, berada dalam kegelapan makam yang mencekam. Dia telah menjadi sama dengan kita dan turut mengalami keadaan kita “supaya melalui kematian-Nya, Dia memusnahkan iblis yang berkuasa atas maut” (Ibr. 2:14). Yesus membuka pintu kematian dan sebagai pemenang atas maut Yesus membebaskan para tawanan akibat dosa.  Kubur tidak akan menjadi tempat kediaman-Nya untuk selamanya.

Kubur atau makam merupakan satu aspek dari kehidupan manusia. Dalam keheningan ini kita merenungkan misteri kubur dan penguburan Tuhan Yesus. Kita telah dikuburkan bersama dengan Yesus dalam pembaptisan agar dibangkitkan dalam kehidupan baru.

Gereja berdoa bersama Bunda Maria di makam Tuhan. Biasanya, di hari sabtu suci Gereja mendoakan Rosario 7 dukacita Maria. Tujuh Dukacita Santa Perawan Maria diambil dari peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Kitab Suci yakni:

  1. Nubuat Simeon (Luk 2:22-35)
  2. Mengungsi Ke Mesir (Mat 2:13-15)
  3. Kehilangan Yesus di Bait Allah (Luk 2:41-52)
  4. Maria bertemu Jesus di jalan menuju Kalvari (Luk 23:27-31)
  5. Maria berdiri di kaki Salib (Yoh 19:25-27)
  6. Maria Menerima Jenazah Jesus di Pangkuannya (Yoh 19:38-40)
  7. Jenazah Jesus di letakkan pada Makam (Yoh 19:41-42).   

Maria tidak diceritakan dalam kisah-kisah Injil mengenai Transfigurasi ataupun masuknya Yesus dengan jaya ke Yerusalem, tetapi ia diceritakan ada di Kalvari.

Maria memahami benar kehendak Allah dan memutuskan untuk taat terhadap kehendak Allah. Ia bekerja sama dengan Putranya mewujudkan penyelamatan manusia. Ia telah mempersiapkan kurban bagi persembahan dan sekarang ia mempersembahkan-Nya di altar Kalvari.

Penyerahan kepada kehendak Allah membuat Maria mampu melalui seluruh peristiwa pilu Sang Putra. Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2:19). Rosario 7 Dukacita Bunda Maria mendorong persatuan dengan sengsara Kristus melalui persatuan dengan sengsara istimewa yang ditanggung Bunda Allah. Dengan mempersatukan diri dengan Sengsara Kristus dan Dukacita BundaNya yang Tersuci, kita masuk ke dalam Hati Yesus dan menghormatinya dengan terlebih lagi. Maka umat Allah juga diundang untuk merenungkan misteri dan dinamika kehidupannya dalam keheningan yang mendalam. Semua pergulatan hidup kita telah dirasakan oleh Yesus sendiri. Maka hening di hadapan makam-Nya, menjadi masa kabung atas dosa untuk mempersiapkan keselamatan yang penuh melalui kebangkitan Yesus di malam Paskah.

Bersama Bunda Maria, kita berdoa dalam keheningan yang mendalam untuk merenungkan betapa besar dan dalamnya cinta Allah bagi manusia. Kita berdiam sejenak untuk mencecap duka Maria untuk menyambut suka cita agung yang melampaui seluruh derita akibat dosa. 

Tambahkan Komentar Anda