Jumat Agung adalah hari terjadinya peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia. Yesus Kristus wafat di salib, di bukit Kalvari. Salib-Nya ditegakkan di atas bumi sebagai bukti keselamatan dan pengharapan bagi seluruh dunia.

Seturut tradisi Yahudi, hari baru dimulai pada sore hari setelah matahari terbenam. Jadi, peristiwa Jumat Agung dimulai sejak kamis sore, ketika Yudas mengkhianati Yesus dengan satu ciuman dan menyerahkan-Nya ke tangan para prajurit.

Yesus dibawa ke hadapan Imam Agung Kayafas dan Sanhedrin atau Mahkamah Agama, yang adalah pemegang pemerintahan agama tertinggi Bangsa Yahudi. Di sana Yesus dimasukkan ke satu penjara bawah tanah yang kosong, dimana Dia diinterogasi oleh para pemimpin agama dan dipukuli oleh para penjaga.

Hingga saat ini, di Yerusalem, masih ada tangga batu yang menuju ke penjara itu, yang berada di bawah rumah dinas Kayafas. Tempat itu, dimana sekarang telah didirikan sebuah kapel di atasnya, disebut sebagai “Galicantu” atau Ayam Berkokok, sebab di sanalah Petrus mendengarnya setelah dia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.

Sepanjang malam itu, Yesus sama sekali tidak tidur dan tidak mendapat asupan apa pun, baik air maupun makanan. Dalam keadaan yang lemah seperti itu, hari Jumat, pagi-pagi benar, para prajurit membawa-Nya ke hadapan Pilatus agar menjatuhkan hukuman mati. Namun Pilatus memutuskan untuk mengirim Yesus kepada Herodes, yang seperti kita tahu, mengirim Yesus kembali kepada Pilatus. Pilatus, yang tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus, ingin membebaskan Dia, namun demi menjaga martabat dan nama baiknya di hadapan orang-orang yang menuntut Yesus mati, Pilatus mengirim Yesus untuk dihukum cambuk dengan sangat kejam.

Akhirnya, merasa terintimidasi oleh teriakan-teriakan orang Yahudi, Pilatus mengalah. Dia mencuci tangan, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Itulah awal Yesus digiring keluar kota dengan memanggul salib menuju tempat tengkorak, atau Kalvari. Di sana Dia dipaku pada kayu salib, salib didirikan, dan mengalami sakrat maut hingga jam 3 sore. Begitu dahsyat rasa sakit yang dialami di sekujur Tubuh-Nya, hingga selama kurang lebih tiga jam tergantung di salib, Yesus hanya mampu mengucapkan tujuh kalimat terakhir yang adalah:

  1. Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.
  2. Hari ini juga, kamu akan bersama Aku di Firdaus
  3. Itulah ibumu. Ibu, itulah anakmu.
  4. Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.
  5. Aku haus.
  6. Selesailah sudah.
  7. Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.

Karena itulah, antara pukul 3 hingga 5 sore, Gereja merayakan peringatan sengsara dan wafat Yesus. Hari ini adalah satu-satunya hari, dimana di seluruh dunia tidak dirayakan Misa Kudus. Sebagai tanda dukacita, di semua gereja tidak dibunyikan lonceng. Imam masuk ke gereja dalam suasana hening dan bertiarap di depan altar, memohon ampun atas nama seluruh umat manusia.

Setelah dibacakan teks Kitab Suci, yang salah satunya adalah kisah sengsara, didoakan doa permohonan yang sangat panjang dengan suasana yang sangat agung, dan dilakukan ritus penyembahan salib. Pada saat itu, lebih daripada menyembah kayu salib, kita mengenangkan dan bersyukur atas pengurbanan Yesus yang penuh cinta, demi menghapus dosa-dosa kita. Selanjutnya dibagikan komuni kudus, yang telah dikonsakrir sebelumnya, dan dengan itu, berakhirlah liturgi hari Jumat Agung.

Hari ini adalah hari wajib pantang dan puasa, dimana kita diharapkan berbagi makanan dan berkat dengan saudara-saudari kita yang paling miskin.

Jumat Agung memang adalah hari kita mengenang Sengsara dan wafat Yesus, secara lebih istimewa. Namun hari itu, lebih dari sekedar hari berkabung, adalah hari perayaan cinta Allah, cinta yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.

Tambahkan Komentar Anda