Pekan ini, peziarahan masa Prapaskah kita memasuki pekan kedua, diawali dengan peristiwa Transfigurasi. Dalam bacaan yang kita dengarkan pada Ekaristi hari Minggu Prapaskah II ini, kita diajak naik gunung oleh Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada 3 hal yang dapat kita renungkan bersama selama sepekan ke depan;

Pertama

Yesus mengajak untuk naik gunung, suatu tempat yang tidak mudah dicapai dan perlu perjuangan. Yang namanya naik gunung membutuhkan keberanian, kemauan dan niat yang kuat, serta energi yang cukup. Melelahkan memang, namun ketika sudah sampai di atas gunung kita akan merasakan sukacita karena dapat menyaksikan pemandangan yang indah, dan melihat bintang di langit seolah-olah dekat. Maka, naik bunung bersama Yesus artinya menyediakan waktu untuk Tuhan dan mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan-Nya. Apa yang dimaksud dengan gunung dalam hidup kita setiap hari? Doa.  Betapa sulit kita menyediakan waktu meski hanya sebentar untuk diam, hening, berdoa, mendengarkan Tuhan melalui Sabda-Nya dalam Kitab Suci! Kita seringkali mengeluh ketika mengikuti Misa Kudus selama 1,5 jam, gelisah ketika diajak untuk membaca Kitab Suci, merasa tidak betah ketika diajak adorasi selama 30 menit. Namun sebaliknya, kita seringkali merasa kurang waktu ketika mengerjakan tugas sepanjang hari, merasa baru sebentar ketika scroll media sosial selama berjam-jam, merasa kurang lama ketika berjalan-jalan keliling mall, dsb. Di Minggu Prapaskah II ini, Yesus mengajak kita untuk mendaki gunung; mengajak kita untuk melawan rasa malas, godaan dan segala sesuatu yang tidak membawa kita pada perjumpaan dengan Allah.

Kedua

Yesus mengajak kita untuk turun gunung. Dia tidak ingin kita terlalu lama berada di atas.  Petrus mengatakan kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Namun Yesus mengajak mereka turun, artinya: situasi batin kita saat dalam doa ataupun latihan rohani memang terasa sangat membahagiakan karena mengalami perjumpaan rohani dengan Allah. Yesus tidak ingin kita terlena dalam situasi tersebut. Dia mengajak kita untuk “turun gunung”, untuk berbuah, membagikan sukacita yang kita alami kepada keluarga, teman-teman di sekolah, rekan kerja, dan orang-orang di sekitar kita, dengan cara yang sangat manusiawi seperti memasak untuk makan bersama dalam keluarga, mengunjungi orang sakit, datang tepat waktu di tempat kerja, menjadi teman yang bersedia untuk mendengarkan, dan masih banyak hal lain.

Ketiga

Saat masih di atas gunung, Petrus, Yohanes, dan Yakobus mendengar suara; “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Yang menjadi kata kunci adalah: Dengarkanlah Dia. Dengan tegas dan jelas, Allah meminta kita untuk “mendengarkan”. Mendengarkan berarti taat dan mau mengubah sikap. Kita dapat mendengarkan Allah melalui sabda-Nya, melalui peristiwa yang kita alami, bahkan melalui teguran atau peringatan dari orang lain. Dan ini merupakan sikap pertobatan yang sejati.

Di sepanjang tahun 2026 ini, melalui para suster Misionaris Claris dan Keluarga Inesian, kita diberi rahmat dan kesempatan untk memperoleh rahmat Indulgensi, dengan berdoa dan melakukan cinta kasih kristiani. Maka, marilah kita menanggapi ajakan Yesus untuk naik gunung dan menggunakan kesempatan penuh rahmat ini dengan menyediakan waktu untuk berdoa, berbuah, dan berubah.

 

Sr. Yosefine Catur, M.C.

Tambahkan Komentar Anda