3 Hari Seru Suster Muda di Kota Pecel
Catatan Ongoing Formation 17 Suster Misionaris Claris di Madiun
Di tengah semaraknya Kota Madiun yang terkenal dengan pecelnya yang menggugah selera, terselip kisah tiga hari yang tak hanya penuh pembelajaran, tetapi juga diwarnai gelak tawa, refleksi, dan keakraban. Tanggal-tanggal ini menjadi momen spesial bagi 17 suster muda dari Kongregasi Suster Misionaris Claris yang sedang menjalani kegiatan Ongoing Formation (OGF) di Rumah Novisiat MC, sebuah bagian penting dalam perjalanan hidup religius mereka.
Siapa bilang hidup religius itu kaku dan membosankan? Simak kisah lengkap kami selama tiga hari di Kota Pecel tercinta!
Hari Pertama: Belajar Menjadi Suster yang “Asyik dan Sopan”
Hari pertama dibuka dengan semangat dan rasa ingin tahu. Tema hari ini: “Sopan Santun dan Cara Berelasi Positif dalam Komunitas.” Materi ini disampaikan dengan pendekatan yang ringan namun mendalam. Kami diajak merenungkan ulang bagaimana cara kita menyapa, mendengarkan, menegur dengan kasih, hingga bersikap dalam komunitas sehari-hari. Rupanya, hal-hal kecil seperti nada bicara atau sekadar senyum bisa jadi “alat misi” yang luar biasa dalam hidup bersama! Ada sesi diskusi, ice breaking yang membuat ruangan penuh tawa dan, tentu saja, beberapa suster mulai “menyadari dosa-dosa kecil” dalam keseharian. Malam hari ditutup dengan adorasi bergilir, sebagai bentuk komitmen memperbaiki relasi bukan hanya dengan sesama, tapi juga dengan Tuhan.
Hari Kedua: Dari Gigi sampai Pribadi yang Sehat
Hari kedua penuh energi! Tema hari ini adalah “Kesehatan Wanita dan Kebersihan gigi dalam Hidup Komunitas.” Materi dibuka dengan penjelasan tentang pentingnya menjaga kebersihan diri sebagai wanita religius. Mulai dari perawatan tubuh yang sesuai, menjaga kesehatan organ kewanitaan, sampai merawat gigi agar tetap sehat dan tidak membuat teman serumah pingsan karena bau mulut. Selain itu, kami juga belajar tentang bagaimana menjaga kebersihan dalam komunitas, dimulai dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, kapel, ruang makan bahkan ruang kerja.
Ternyata, hidup suci itu juga berhubungan dengan hidup bersih! Setelah materi selesai, kami mendapat kesempatan pemeriksaan kesehatan gratis. Tim medis datang dari Rumah Sakit Santa Clara dengan perlengkapan lengkap, dan kami pun mendapat layanan cek gula darah, tekanan darah (tensi), hingga vaksin flu. Beberapa suster terlihat antusias sambil bercanda, ada yang bilang ini seperti “check-up sebelum diutus kembali ke medan misi.” Tapi… tidak semua berani! Saat giliran vaksin dimulai, ada satu-dua suster yang mulai panik melihat jarum suntik. “Suster, itu jarumnya panjang banget ya?” tanya salah satu sambil menunduk, berharap tidak dipanggil duluan. “Bisa nggak ya vaksinnya sambil tutup mata?” tanya yang lain sambil menggenggam tangan temannya erat-erat. Tentu saja akhirnya semua berhasil divaksin, meski ada yang harus ditenangkan dulu oleh suster pendamping. Tapi hasilnya memuaskan hampir semua dalam kondisi sehat dan prima. Ini menjadi pengingat bahwa tubuh sehat adalah modal untuk terus berkarya dan melayani.
Sore Hari: Voli, Dangdut, dan Gaya Bebas
Setelah “kuliah kesehatan”, kami rehat sejenak untuk rekreasi sore. Lapangan kecil menjadi arena voli persahabatan. Tetapi tidak hanya voli! Lagu-lagu dangdut mulai diputar, dan tanpa komando, kami pun ikut bergoyang! Ya, suster juga bisa goyang tentu dengan cara yang sopan dan tetap bersahaja. Tapi jangan salah, energinya luar biasa! Bahkan Sr. Elma yang biasanya kalem, kali ini terlihat sangat menikmati permainan dan goyangan kecilnya sambil tertawa lepas. Dia kami nobatkan sebagai ratu dangdut. Setelah satu jam bertempur, kami lanjut ke kolam renang. Suasana santai, ceria, dan penuh gaya. Ada yang gaya bebas, gaya katak, bahkan gaya menyelam tanpa pelampung (alias gaya batu). Teriakan kecil dan tawa lepas menghiasi kolam. Kami seperti kembali ke masa kanak-kanak yang riang, tapi dalam konteks persaudaraan religius yang hangat.
Malam Seru: Api Unggun, Jagung Bakar, dan Kursi Panas
Malam harinya, kami berkumpul di halaman. Api unggun dinyalakan, dan suasana menjadi lebih hangat. Saling berpegangan tangan, kami menitipkan api harapan dalam nyala api yang makin besar. Sambil memanggang jagung, kami menyanyikan lagu-lagu rohani dan rekreasi. Kemudian, tibalah sesi yang paling heboh: permainan rebutan kursi panas! Musik diputar, kursi diputar, dan kami berputar-putar sambil deg-degan. Tawa, teriakan lucu, dan ekspresi kaget mewarnai permainan klasik ini. Bahkan Sr. Reni, yang terkenal tenang, sampai “menghalau” suster lain demi kursi terakhir. Luar biasa semangatnya! Malam itu ditutup dengan tarian sambil menikmati jagung manis dan suasana yang hangat bukan hanya karena api, tapi karena persaudaraan sejati.

Hari Ketiga: Table Manner ala Eropa dan Amerika? Bisa!
Hari terakhir tak kalah menarik. Kami diajak masuk ke dunia elegan: “Table Manner ala Eropa dan Amerika.” Meja makan ditata layaknya jamuan resmi. Piring-piring disusun dengan aturan, sendok dan garpu berjejer anggun, dan kami pun belajar cara duduk, memegang alat makan, hingga cara minum air dengan sopan. Sebagai suster misionaris, penting untuk tahu bagaimana bersikap elegan, juga di meja makan, tanpa kehilangan kerendahan hati. Beberapa suster sempat bingung mana duluan: sendok pasta, garpu salad, atau pisau utama. Tapi semua belajar dengan gembira. Bahkan ada sesi simulasi “jamuan kenegaraan ala komunitas Suster Misionaris Claris”. Lucu dan edukatif!

Penutup: Suster Muda Bisa Seru, Suci, dan Sehat
Tiga hari di Madiun bukan hanya soal belajar, tetapi mengalami kebersamaan, pembinaan, persahabatan, kebugaran tubuh, hingga sukacita hidup religius dalam bentuk yang utuh: serius namun santai, reflektif tapi juga rekreatif. Kami pulang membawa semangat baru. Bahwa menjadi suster tidak berarti harus selalu serius. Kami bisa sopan tapi asyik, sehat tapi sederhana, dan ceria tapi tetap setia dalam panggilan kami. Rumah Novisiat tercinta, terima kasih untuk ruang dan kenangan indah ini. Sampai jumpa di kegiatan berikutnya!

Sr. Yosefina Fobia dan Sr. Elisabeth Veronika Mbere











2 Comments
Ibu Agnes Kase,Sek
Hallo para Sr… pengen sekali kembali ke jalan Mundu 27… salam dari pulau Timor dari orang pertama dari Timor yang ingin bergabung tapi kandas karna di nyatakan sakit 17 tahun lalu,salam🙏🙂
Br. Damian, CSA
Tantangan yg dihadapi pada dunia masa kini memang beraneka ragam.
Mampukah kita mengolah keanekaragaman tantangan menjadi berkat dlm karya perutusan kita masing-masing.
Slm semangat para suster muda MC, ttp semngt melayani, karena Tuhan telah menanti karya-karya baik bagi sesama dan mereka yg terlupakan. Berkah Dalem