Berjalan bersama Bunda Maria, menjadikan dia teladan, belajar dari keutamaan-keutamaannya… Mengapa kita menjadikan Bunda Maria sebagai teladan? Dengan segala kesulitan dan keheningan yang dialaminya, segala ‘kejutan-kejutan’ yang didapatnya sebagai ibu Tuhan yang tidak selalu sulit, melainkan sangat sulit; dapatkah kita mengatakan bahwa hidupnya bahagia? Bukankah kebahagiaan suci itulah yang ingin kita nikmati?

Dalam renungan ini, kita akan melihat keutamaan-keutamaan bunda Maria, belajar darinya dan berusaha mencari cara-cara pribadi untuk dapat memilikinya.

Keutamaan adalah suatu sikap yang teguh, tetap, dan mengarahkan tingkah laku. Keutamaan bukan hanya pemberian Tuhan, melainkan diperoleh melalui usaha, latihan, ketekunan dalam usaha, dan semua itu dimurnikan oleh rahmat Ilahi. Jadi, Bunda Maria, wanita yang penuh keutamaan itu, justru dibentuk lewat semua peristiwa hidupnya.

Kebahagiaan tidak hanya bergantung pada peristiwa objektif yang terjadi dalam hidup kita. Ada orang yang selalu menemukan hikmah dalam setiap situasi; mereka memiliki kemampuan untuk mengubah tidak-nyamanan hidup menjadi peluang untuk bertumbuh dan memuliakan Allah.  

Orang lain mungkin tidak pernah menemukan cukup alasan untuk bersukacita; mereka selalu tampak tidak puas.

Kita bisa mengetahui kisah-kisah tentang hidup bunda Maria dan membayangkan, kalau kita yang berada di situasi itu, akan mampukah saya bertahan? Namun kebahagiaan tergantung justru dari cara subjektif kita menafsirkan peristiwa-peristiwa hidup.

Berikut adalah keutamaan-keutamaan bunda Maria yang bisa kita renungkan pada hari ini:

  1. Iman dan ketaatan penuh terhadap Sabda Allah (Luk. 1: 26-28; 1:45; 11:27-29; Yoh 2:5)

Iman adalah pusat dari seluruh kisah Bunda Maria. Iman Bunda Maria didasarkan pada kepercayaan akan janji-janji Allah dan rancangan agungnya bagi seluruh umat manusia, yang dikenalnya melalui Kitab Suci. Namun, iman itu adalah iman yang hidup, yang terwujud dalam tindakannya, dalam fiat-nya.

Iman Maria bukanlah iman yang mencari kepastian sebelum bertindak. Ia tidak meminta rincian rencana Tuhan sebelum mengatakan Fiat—”terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (Lukas 1:38). Ia mengizinkan Sabda itu mengambil alih seluruh keberadaannya. Di sini kita bisa belajar bahwa iman bukanlah tentang memahami semua jalan Tuhan, tetapi tentang mempercayakan diri pada-Nya bahkan ketika kita tidak melihat jalan di depan.

  1. Ketaatan yang murah hati (Luk 1:38)

Bunda Maria, dalam Lukas 1:38, berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Ini yang selalu menjadi teladan dari fiat kita masing-masing. Namun ketaatan Bunda Maria bukan hanya sekedar taat—Dia tidak hanya taat pada sesuatu yang mengandung tugas menjalankan sesuatu, tapi taat bahkan pada sesuatu yang berarti akan mengubah dirinya secara utuh. ia berani menyerahkan misteri hidupnya pada rencana yang tak dipahaminya. Ketaatannya bukan pasif; kemurah-hatiannya menantang logika. Ia tak minta jaminan, hanya memberi dirinya seutuhnya. Di sana, iman menjadi tindakan paling radikal dalam keheningan.

  1. Kerendahan hati sejati (Luk 1:48)

Dalam Lukas 1:48, kerendahan hati Maria bukan sekadar merasa kecil—ia mengenali pandangan Allah atas “kerendahan” sebagai tempat karya besar-Nya. Ini bukan merendah untuk dipuji, tapi kesadaran mendalam bahwa kemuliaan tak lahir dari posisi, melainkan dari keterbukaan total kepada Allah yang memutarbalikkan dunia.

  1. Kasih yang suka menolong (Luk 1:39-56)

Dalam Lukas 1:39–56, Maria menunjukkan kasih yang tidak hanya hangat dalam kata, tetapi nyata dalam tindakan. Baru saja menerima kabar ilahi yang mengguncang hidupnya, ia tidak memilih untuk diam, merenung, atau menanti penjelasan lebih lanjut. Justru ia segera “bergegas” menuju pegunungan untuk menemui Elisabet, kerabatnya yang juga sedang mengandung secara ajaib. Kasih Maria tidak bersifat reaktif atau emosional belaka, tetapi berakar dari kepekaan mendalam terhadap kebutuhan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang mengalami sesuatu yang luar biasa besar.

Ia tidak menunggu untuk “beres dengan dirinya sendiri” sebelum melayani. Inilah kasih yang berani menunda kenyamanan pribadi demi menyertai sesama. Perjalanannya panjang, melelahkan, tetapi Maria tidak membiarkan hal itu menjadi alasan. Ia tidak datang dengan membawa cerita tentang dirinya, tapi justru menjadi kehadiran yang menguatkan Elisabet, bahkan anak dalam kandungan Elisabet melonjak oleh kehadiran Maria.

Kasih Maria adalah kasih yang tahu waktu—tahu kapan harus hadir, tahu bahwa pertolongan tidak selalu menunggu diminta. Dalam Magnificat-nya, ia menyingkap rahasia kasih itu: berasal dari Allah yang mengangkat yang hina dan mengenyangkan yang lapar. Kasih Maria meniru kasih Allah—aktif, nyata, dan mendahulukan yang lemah.

  1. Kebijaksanaan yang mendalam (Luk 1:29, 34; 2:19, 33, 51)

Kebijaksanaan Maria tidak tampak dalam banyak kata, melainkan dalam cara ia menyikapi misteri. Dalam Lukas 1:29 dan 34, saat menerima salam malaikat dan kabar luar biasa, Maria tidak langsung percaya tanpa berpikir, tetapi “tercengang” dan bertanya—bukan karena ragu, tetapi karena ingin mengerti secara jujur. Ia tidak menyangkal hal-hal ilahi, namun juga tidak menelannya mentah-mentah. Inilah kebijaksanaan sejati: hati yang terbuka, tapi tidak ceroboh.

Lukas 2:19, 33, dan 51 memperlihatkan bahwa Maria menyimpan semua peristiwa “dalam hatinya” dan merenungkannya. Ia tidak buru-buru mengambil kesimpulan atau menyebarkan cerita rohani yang belum ia pahami. Ia menghormati proses misteri, tidak mencoba menguasainya. Maria tidak membiarkan keajaiban menjadi hiburan rohani semata; ia mengolahnya dalam keheningan batin.

Kebijaksanaan Maria adalah kebijaksanaan seorang ibu yang tahu bahwa tidak semua hal harus dijawab segera, dan tidak semua rahasia harus dibuka sekarang. Ia memberi ruang bagi waktu dan Allah untuk menjelaskan segalanya. Dalam dunia yang tergesa mencari kepastian, Maria mengajarkan bahwa kebijaksanaan sejati kadang berarti diam, menyimpan, dan terus percaya sambil menunggu terang yang perlahan.

  1. Ketabahan dalam pembuangan dan kedukaan (Mat 2:13-23; 2:34-35, 49; Yoh 19:25)

Iman Maria juga diuji dalam penderitaan. Di bawah salib, ketika logika manusia mengatakan bahwa semua sudah berakhir, Maria tetap berdiri. Ia tidak mengerti sepenuhnya mengapa penderitaan harus terjadi, tetapi ia tetap percaya. Dalam Marialis Cultus, Paus Paulus VI menunjukkan bagaimana Maria tetap setia bahkan dalam kesedihan terdalamnya—dan di sini kita melihat bahwa iman bukan hanya untuk saat-saat kemenangan, tetapi juga untuk saat-saat gelap.

 

Sr. Carla Nugroho, M.C.

Tambahkan Komentar Anda