Lukas 1:1-4, 4:14-21
Kampung halaman identik dengan tempat lahir, tempat kita hidup dan dibesarkan. Banyak rekam jejak, nostalgia/pengalaman manis dan indah, pengalaman bermakna dan inspiratif. Di sana, kita dibentuk menjadi pribadi yang utuh, baik secara manusiawi, intelektual, maupun spiritual.
Hari ini, Minggu, 26 Januari 2025, Lukas berkisah tentang Yesus yang kembali ke Galilea setelah melakukan semedi dan berpuasa di padang gurun. Galilea bagi Yesus adalah tempat bersejarah, tempat Yesus hidup dan bertumbuh sebagai seorang anak dari keluarga tukang kayu, yakni Yosef dan Maria. Di sana, Dia dibentuk menjadi pribadi yang utuh. Di tengah keluarga-Nya sendiri, Dia memulai misi yang pertama; mewartakan kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi para tawanan dan yang tertindas, penyembuhan bagi yang buta, dan mewartakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang, seperti yang telah dinubuatkan Yesaya sebelumnya (Luk. 4:18-19). Nubuat Yesaya bukan sekedar diwartakan dengan ucapan vivir, tetapi digenapi oleh Yesus dalam tindakan konkrit melalui pemberian diri sampai akhir di atas salib-Nya .
Pada suatu hari Kamis, 9 Mei 2024, Paus Fransiskus secara resmi mengumumkan bahwa tahun 2025 merupakan Tahun Yubileum. Tahun Yubelium adalah tahun istimewa, tahun rahmat Tuhan, di mana ada pembebasan, pengampunan dan pemulihan diri. Gereja, dalam tahun Yubelium ini mengambil tema: “Menjadi Peziarah Harapan”.
Program tahun 2025 Kongregasi Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus mengambil tema “El camino”, yang artinya “Perjalanan”. Bersamaan dengan Tahun Yubelium, Madre Martha Gabriela, M.C., Pemimpin Umum, berpesan: “Bersama seluruh Gereja, para suster Misionaris Claris dipanggil untuk menjadi peziarah-peziarah pengharapan” (PAK-MC tahun III, hal.1).
Untuk dapat menjadi peziarah-peziarah pengharapan, kita mesti menjadi seperti Yesus yang kembali ke Galiela; yakni kembali ke dalam komunitas/keluarga, kembali ke dalam diri kita masing-masing. Di sana kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Di sana ada mutirara-mutiara berharga, pengalaman indah dan sederhana yang memotivasi kita untuk terus bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh. Di sana hadir juga saudara-saudari senasib dan seperjuangan. Di dalamnya, kita membangun persaudaraan yang solid dengan sesama sebagai ‘Peziarah-peziarah pengharapan”, untuk berjalan keluar dan berjumpa dengan Yesus yang hadir dalam diri orang-orang kecil, sederhana, letih dan tak berdaya, orang yang terbelenggu oleh aneka persoalan hidup.
Namun, kita tidak mungkin menjadi peziarah yang berjalan sendiri. Kita harus berjalan bersama sebagai satu persekutuan yang bergandengan tangan, dan dalam kesetiaan. Menjadi seorang peziarah tidak mesti dan tidak cukup dengan pergi berziarah ke tempat-tempat atau kota-kota suci seperti Yerusalem, Vatikan, Lordes, dan sebagainya. Kita dapat menjadi peziarah-peziarah dalam hidup harian lewat saksi nyata dalam tugas yang sedang kita lakukan. Itulah ”Peziarah kehidupan” yang menjadikan Tahun Yubileum ini sungguh menjadi tahun istimewa, tahun penuh berkat yang membantu kita saling membuka belenggu kesombongan diri, kemunafikan, iri dan benci. Sehingga bersama-sama, kita dapat membangun budaya saling memaafkan dan mengampuni dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Kita sadar bahwa hal ini tidak mudah, butuh proses, namun dengan rahmat Tuhan, kita pasti mampu terus berjuang dalam hidup.
Marilah kita bersama Bunda Maria Guadalupe dan dalam terang Roh Kudus menjadi peziarah-pezarah yang hidup dalam pengharapan dan dalam kesetiaan.
Sr. Paulina Dhiu, M.C.

