Natal telah usai, namun semangat natal tak pernah usai, Dia akan terus tinggal bersama kita.
Selasa, 9 Januari 2024, sang mentari pagi belum nampak namun di halaman pastoran Gereja Santo Cornelius telah tersedia transportasi bus besar. Bus ini akan membawa para religius Kevikepan Madiun yang terdiri dari para romo, bruder CSA, frater, suster AK, OSU, SCMM, dan MC, menuju Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius – Pacitan untuk tetap menghidupi semangat natal bersama.
Perjalanan sungguh menyenangkan karena diwarnai dengan doa, alunan lagu rohani dan lagu-lagu tempo dulu. Jalan berkelok–kelok mengitari sawah, tebing, perbukitan. Semua dinikmati oleh para penumpang. Perjalanan ditempuh kurang lebih dua setengah jam, yang disambut dengan penuh kehangatan oleh RD. Ferdinandus Eltyson Prayudi akrab disapa dengan Romo Yudi dan beberapa tokoh umat dengan minum kopi dan teh.
Sambil menikmati kopi hangat, saya melihat gereja yang dibangun menyerupai kapal. Suatu bentuk bangunan gereja yang unik, di dalamnya sungguh indah, atapnya bernuansa warna langit, seolah-olah kapal sedang berlayar di pantai Pacitan.

Acara kebersamaan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RP. Antonius Wahyuliana, CM., (Vikep Madiun) dan RD. A. Akik Purwanto (Romo Paroki Mater Dei). Dalam homilinya Romo Wahyu mengatakan, “bahwa semua anggota religius mesti bersukacita dan semangat dalam pelayanan”.
Setelah perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan acara kebersamaan yang dipandu oleh Br. John. CSA.; gerak dan lagu, sharing sukacita natal dari beberapa romo dan suster, serta tukar kado sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan. Selama acara keakraban berlangsung, gelak tawa sungguh menyelimuti ruangan yang telah disediakan oleh umat stasi.
Di tengah keramaian gelak tawa dan bunyi musik yang indah terbesit dalam benakku, “Sungguh indah kebersamaan dalam perbedaan. Ini semua karena Dia yang mempersatukan”.
Acara diakhiri dengan santap siang bersama dengan menu Istimewa ikan bakar dan ikan goreng, ditemani lalapan dan sambal yang lezat. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pancer Door Beach. Disambut desiran angin sepoi dan derunya ombak sebagai tanda bahwa alam pun turut bersukacita.
Sambil berjalan menyusuri pantai berpasir putih dan hitam, Sr.Maryati MC dan saya berjumpa dengan beberapa nelayan yang sedang memancing. Serentak kami berdua menyapa; “Selamat siang pak, apakah sudah ada ikan yang ditangkap?” Mereka pun serentak menjawab; “Belum bu… kami baru saja membuang umpan”. Tentu jawaban para nelayan ini sungguh bernada harapan bahwa mereka pasti mendapatkan ikan. Itulah semangat iman dan semangat juang mereka untuk terus bekerja walau pun di bawah teriknya matahari.
Dari pantai, kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Gong yang terletak sekitar 200 meter dari Pantai, yaitu di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Pacitan. Meskipun jalannya menanjak, kami semua tetap berjalan dan melangkah pasti penuh sukacita dengan harapan cepat sampai ke Goa Gong yang, menurut kata orang, tempat wisata terindah di Pacitan.
Awalnya saya merasa ketakutan ketika memasuki bibir Goa Gong yang terlihat gelap, namun dengan berbekal senter serta bersama teman-teman yang lain, saya pun memberanikan diri masuk. Lampu senter yang saya pegang tetap terarah ke depan. Saat berjalan harus hati-hati dan penuh iman karena licin, berkelok–kelok, kadang menurun, kadang menanjak. Sesak dan lembab, karena hanya ada kipas angin besar di beberapa sudut goa. Terlihat banyak stalaktit dan stalakmit yang begitu indah hasil tetesan air batu kapur yang menyerupai tirai. Lampu-lampu yang dipasang di beberapa bagian, memberikan cahaya yang memperindah goa tersebut. Di dalam, ada satu bentuk stalaktit jika ditabuh/dipukul akan mengeluarkan bunyi mirip bunyi gong. Karena itu dinamakan dengan GOA GONG. Perasaan takutku mulai berubah, perlahan muncul rasa haru dan kagum menikmati karya agung Tuhan yang begitu indah mempesona. Terima kasih Tuhan, tak ada kata yang kuucapkan selain pujian dan syukur serta berharap, semoga dengan melihat dan menikmati Goa Gong ini saya semakin dikuatkan dalam iman, dan setia dalam panggilanku dan semoga semua orang yang datang ke Goa Gong ini juga mengalami sukacita atas karya Tuhan yang ajaib dan indah. Terimakasih Tuhan atas semua anugerah-Mu.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan sore hari, kami pun bersiap untuk kembali ke Madiun dan sebelumnya mampir membeli oleh–oleh untuk dibawa pulang. Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu dan kebersamaan yang kami rasakan dalam perjalanan hari ini. Semoga pengalaman sukacita dan kegembiraan yang telah dirajut bersama, semakin menumbuhkan rasa cinta dan kesetiaan dalam panggilan seturut semangat dan spiritualitas masing–masing Tarekat kami.
Terima kasih teman-teman Badan Kerjasama Religius Keuskupan Surabaya, Kevikepan Madiun, sampai jumpa di perjalanan berikutnya.
Sr. Paulina Dhiu, M.C.

