Kisah ini berawal dari “Betania”  yang merupakan suatu tempat persahabatan dan kasih yang tulus datang dari hati.

Di salah satu rumah di Betania, hiduplah tiga bersaudara: Lazarus, Maria, dan Marta. Mereka adalah orang biasa. Meski rumah itu adalah rumah sederhana seperti rumah lain pada umumnya, namun ada yang berbeda dengan rumah itu,  karena Yesus sering singgah ke sana  karena merasakan adanya kehangatan relasi dan penerimaan apa adanya.  Dari sinilah lahir persahabatan sejati.

Di tengah-tengah persahabatan itu munculah suatu pergumulan iman yaitu ketidakhadiran seorang sahabat pada saat dibutuhkan. Dalam perjalanan waktu, Lazarus meninggal karena sakit. Pada saat-saat ajalnya, di saat-saat terakhirnya, Yesus, yang mereka andalkan, yang mereka harapkan untuk bisa menyembuhkan Lazarus, tidak ada, tidak hadir dan tidak pernah muncul sampai Lazarus meninggal. Di manakah Yesus? Apakah Dia tidak tahu kalau Lazarus sakit dan sangat mengharapkan kehadiran-Nya? Seandainya Dia ada, Lazarus pasti tidak akan mati… seperti yang dikatakan oleh Marta. Maria dan Martha sangat terpukul hatinya dengan kematian Lazarus, apalagi sudah empat hari setelah kematian Lazarus,  Yesus tidak kunjung muncul. Dalam tradisi mereka, hari keempat berarti roh telah pergi sepenuhnya, tubuh mulai membusuk, harapan telah dikuburkan bersama-sama dengan ditutupnya batu penutup makam. Harapan akan mujizat tidak ada, sebab jika Yesus datang pun sudah terlambat, mereka berhenti berharap. Demikian pikiran Maria dan Marta sebagai seorang manusia yang merupakan sahabat Yesus. Di titik inilah iman berbicara, apakah dia akan bertahan atau justru hilang bersama larutnya kesedihan.

Namun, di saat-saat itu, terdengarlah berita Yesus datang ke Betania. Yesus datang dengan sudah mengetahui semuanya, tentang kematian, tentang dukacita yang mendalam juga tentang luka terdalam dari Maria dan Marta. Marta segera mendapatkan Yesus. Terjadilah percakapan di antara mereka. Senang, sedih, berharap, kecewa semua perasaan Marta jadi satu. Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya” (bdk. Yoh 11:24-27). Suatu jawaban yang yang tepat meskipun melalui cobaan yang berat, dan Yesus bertindak!

Yesus berjalan menuju kubur. Orang-orang yang ada di sekitarnya diam dengan pikiran mereka masing masing. Apa yang akan Dia lakukan? Apakah Dia akan membuat mujizat? Semua tegang, mata tertuju pada setiap gerakan dan perkataan Yesus. Yesus menatap ke kubur dengan tajam. Suasana hening, tidak ada suara satu pun terdengar. Lalu Yesus bekata, “Angkat batu itu!” Semua orang saling beradu pandang, seaat tidak ada yang bergerak, mereka bingung, bagaimana mungkin? Ini sudah hari keempat, tubuh pasti sudah hancur dan bau pun sudah dipastikan akan menyengat. Perintah yang tidak masuk akal, pikir mereka. Seluruh nalar dan logika manusia menolak mentah-mentah perintah itu.  

Yesus menatap Marta dan berkata, “Jika engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah.”  Di sinilah iman dipertaruhkan. Berpegang pada logika manusia, atau percaya pada Tuhan dengan segala resikonya. Marta menunduk dan tak lama kemudian batu pun digeser pelan. Suaranya memecah keheningan saat itu. Maka terbukalah kubur itu, lalu dengan penuh kuasa Yesus berkata, “Lazarus, marilah ke luar!” Dan bangkitlah Lazarus dari kematian karena kuasa Allah sendiri. Kematian telah dikalahkan. DI saat manusia berkata terlambat, namun bagi Tuhan tidak ada kata terlambat. Tuhan memiliki waktu-Nya sendiri. Di Betania kuasa Yesus dinyatakan. Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Kebangkitan dan Kehidupan.

Seringkali hidup terasa “mati”, hilang, doa tidak terjawab, Tuhan tidak ada. Tapi di situlah Tuhan bekerja dengan diam. Tuhan menunggu saat yang tepat memanggil kita “keluar“ dari kubur keputusasaan, dari kubur hilangnya pengharapan serta dari kubur kesedihan. Sebelum Tuhan memanggil kita keluar, apakah aku mengijinkan Tuhan menyingkirkan “batu“ kedegilanku?

Seperti Lazarus dipanggil Yesus, Yesus juga memanggil kita keluar dari kematian dan keputusasaan untuk hidup penuh pengharapan bersama Dia.

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda