Puasa merupakan praktik yang memiliki nilai rohani dan berkenan kepada Allah. Kitab Suci menekankan pentingnya berpuasa dan berkat-berkat yang dapat diperoleh daripadanya.
Dalam Injil Matius 6:16-18, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana cara berpuasa yang benar dan tulus: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Namun, apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa kamu sedang berpuasa, melainkan oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Puasa dapat menjadi suatu ekspresi dari penyesalan dan pencarian akan Allah. Dalam kitab Yoel 2:12 dikatakan: “Tetapi, sekarang juga,” demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis dan meratap.”
Puasa juga merupakan salah satu cara untuk mencari kebijaksanaan ilahi dan menerima bimbingan dari kebijaksanaan itu sendiri. Dalam Kisah para Rasul 13:2-3, kita juga dapat melihat bagaimana para pemuka jemaat kuno berpuasa dan berdoa sebelum mengutus Paulus dan Barnabas untuk bermisi: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, ”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk pekerjaan yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.”
Demikian juga puasa merupakan salah satu cara untuk menguatkan relasi kita dengan Allah dan membantu kita menjadi kuat dalam pencobaan. Dalam Matius 4:2, Yesus berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam sebelum dicobai iblis: “Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.”
Dalam Kitab Nabi Yesaya 58:6-7 dikatakan bahwa puasa harus diiringi dengan tindakan yang adil dan cinta kasih kepada orang lain, yang menunjukkan hati yang murni dan pencarian sungguh akan Allah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa puasa adalah senjata rohani yang kuat yang mendekatkan kita pada Allah, memurnikan dan membuat kita mampu melayani dengan sungguh.
Puasa seperti apakah yang berkenan kepada Allah?
Jenis puasa yang berkenan kepada Allah dapat kita baca dalam Yesaya 58:6-7, di mana dikatakan : “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya kamu membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”
Keuntungan rohani yang diperoleh dengan berpuasa
Dengan mempraktikkan puasa yang berkenan kepada Allah, kita mendapatkan banyak keuntungan rohani. Pertama, kita semakin dekat dengan Tuhan dan dikuatkan dalam relasi dengan-Nya; selain itu, membantu kita untuk lebih fokus pada hal-hal surgawi daripada yang duniawi. Puasa juga merendahkan kita dan membantu kita untuk memiliki ketergantungan pada Allah, sekaligus mengajarkan kepada kita untuk disiplin dan menguasai diri. Dengan berpuasa kita juga dapat memperoleh kecerahan mental dan spiritual seperti halnya menerima pernyataan dan bimbingan Allah
Melalui beberapa teks biblis di atas, kita dapat belajar bahwa puasa harus memiliki makna lebih jauh dari sekedar menahan rasa lapar. Puasa yang berkenan kepada Allah ialah puasa yang disertai dengan kerendahan hati, kejujuran dan kerinduan untuk mencari kehendak Allah.
Paus Leo XIV memberikan pengertian mengenai PUASA YANG OTENTIK, terdiri dari 4 hal berikut:
- Menahan diri dari kata-kata kasar, menyakitkan dan melukai sesama.
- Menghindari penilaian yang tergesa-gesa.
- Menghindari fitnah.
- Menghindari membicarakan keburukan orang lain yang tidak hadir sehingga tidak dapat membela diri.
Keempat hal di atas dapat digantikan dengan: kata-kata yang membawa harapan dan damai.
Marilah kita mengisi hari-hari puasa kita dengan kata-kata dan tindakan yang membawa harapan dan damai sehingga berkenan kepada Allah.
Sr. Yuliana Antin Kaswarini, M.C.

