Hidup kudus? Nggak ah…ribet, banyak aturan, gak bebas. Eh, tunggu dulu! Banyak yang mengira kalau hidup kudus itu harus sempurna, suci, jauh dari orang lain. Padahal hidup kudus dimulai dari tindakan sederhana.

Ibu Hesti setiap hari bangun pagi-pagi ketika semua anggota keluarga masih tertidur lelap. Ia memasak, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, dan memastikan semuanya sudah beres sebelum anak-anak berangkat sekolah dan sang suami berangkat ke kantor. Ibu Hesti mengantar kepergian mereka dengan senyum bahagia dan tulus. Tidak ada yang memperhatikan dan melihat kesibukannya setiap hari, namun dengan cinta dia tetap melakukan semua itu setiap hari.

Suatu kali, di saat sedang santai bersama di ruang keluarga, anaknya bertanya, “Ibu capek nggak sih, setiap hari bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami semua?” Dengan tatapan kasih, Bu Hesti menjawab, “Ibu kadang memang merasa capek, tapi ibu bahagia karena melihat kalian semua bahagia, berangkat sekolah dan bekerja dengan penuh semangat, ibu jadi ikut bersemangat pula bekerja di rumah. Ibu menyayangi kalian dengan melakukan apa yang ibu bisa untuk kalian.” Mendengar jawaban ibunya, sang anak mulai sadar bahwa kasih ibu memang tulus dalam melayani, meski tidak dilihat orang. Dia merasa bersalah karena jarang mengucapkan terima kasih kepada ibunya karena dia menganggap itu sudah biasa. Anak itu sadar bahwa ibunya bekerja bukan untuk mencari ucapan terima kasih atau pujian. Itu semua adalah suatu pelayanan yang tulus. Itulah kekudusan. Kekudusan ibunya bukanlah sesuatu yang besar, yang harus diketahui oleh orang lain; kekudusan ibunya adalah melakukan hal-hal sederhana  dengan cinta yang diulangi dan dikerjakan setiap hari dengan diam, tanpa pamrih dan tanpa suara.

Pada Bulan November ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, baik yang sudah dikenal oleh umat maupun yang belum dikenal. Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa panggilan kepada kekudusan bukanlah hanya untuk orang-orang tertentu, tapi untuk semua orang. Semua manusia dipanggil untuk menjadi kudus, apa pun status hidupnya; entah sebagai guru, orang tua, pelajar, pengusaha, ataupun yang lainnya. Sekarang tinggal dari diri kita masing-masing, apakah kita menyadari panggilan luhur ini? Apakah kita menggunakan setiap kesempatan dan peristiwa sebagai sarana untuk menjadi kudus

Dari cerita di atas, kita tahu bahwa kekudusan merupakan pelayanan kepada sesama dengan kasih yang tulus, kerendahhatian, kemurahhatian, serta kesederhanaan. Sifat-sifat itu ada dalam diri Orang Kudus yang sudah kita kenal. Masing-masing mereka mempunyai kelebihan dan talenta yang Tuhan berikan dan itulah yang mereka gunakan menjadi sarana untuk mencapai kekudusan.

Dalam Seruan Apostolik Bapa Suci Paus Fransiskus, Gaudete et Exsultate no. 7 dikatakan, “Saya  senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah: dalam diri orang tua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum, di dalam kegigihan perjuangan mereka untuk terus maju hari demi hari.”

Kekudusan muncul karena rahmat dan kemauan, seperti  dikatakan oleh Beata Maria Ines, “Aku mau menjadi kudus. Allahku, berilah aku rahmat-Mu untuk bertekun senantiasa dalam keputusan-keputusanku yang suci.” Beliau mengambil keputusan untuk mau menjadi kudus, maka setiap peristiwa dan kejadian yang beliau alami dijadikan jalan menuju kekudusan, tentunya dengan selalu mengandalkan rahmat Tuhan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus: “Jangan takut menjadi kudus!” Mari kita berjalan bersama dalam panggilan luhur dan indah dari Tuhan untuk menjadi kudus karena Dia kudus adanya dan kita dapat datang kepada-Nya juga dengan hati yang tulus dan kudus.

“Kekudusan bukan sesuatu yang dicapai sekali melangkah, tetapi dibentuk melalui kesetiaan pada tanggung jawab setiap hari. Pelayanan yang konstan meski tidak dihargai, memurnikan hati dan melatih kita semakin menyerupai Kristus”, demikian Santo Benediktus mengingatkan kita tentang kekudusan.

 

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda