Dalam perjalanan rohani, usaha terbesar dari musuh jiwa kita adalah membuat kita menyimpang dari arah tujuan utama, yaitu Allah. Seperti kita tahu, iblis tidak akan menunjukkan dirinya dengan sesuatu yang menakutkan; iblis tidak akan menggoda kita dengan hal-hal yang kita benci. Sebaliknya, godaan itu datang dalam bentuk hal-hal yang sangat dinikmati oleh indra manusiawi kita, suatu tawaran kebebasan, atau bisa juga dalam bentuk kekhawatiran, atau segala sesuatu yang nyaman bagi cinta diri (misalnya rasa malas).
Pada kenyataannya, godaan itu seperti umpan dan kail. Siapa yang menggigitnya, akan menderita. Meski mungkin awalnya kita merasa puas, enak, nyaman, tapi semua itu hanya sesaat. Ketika kita membiarkan diri diseret oleh godaan, lama kelamaan kekuatan kehendak kita pun melemah, kerinduan akan rahmat padam, dan pada kesempatan berikutnya, makin mudah kita jatuh dengan godaan yang sama.
Sebagai seorang suster Misionaris Claris, saya ingin menawarkan tiga sikap kunci dari Beata Maria Ines yang bisa membantu kita untuk tidak mudah jatuh karena godaan.
- Sadar akan keterbatasan manusiawi kita.
Pengenalan akan kelemahan dan keterbatasan sangat penting untuk kita bisa menjaga diri sendiri. Maka, Beata Maria Ines selalu menekankan pentingnya menjaga pancaindra kita (f. 1358). Pancaindra adalah ladang peperangan kita yang terbesar, sebab dari sanalah kita bisa mempersepsikan apa yang baik dan apa yang buruk. Dengan mengenal kecenderungan manusiawi, kita dapat belajar untuk mengendalikan diri. Misalnya: membiasakan diri untuk berani berkata ‘cukup’. Ketika kita mendengar cerita dari orang lain tentang keburukan seseorang, beranilah berkata ‘cukup’ dengan mengakhiri pembicaraan. Jangan malah mulai bertanya lebih dalam, menginvestigasi sampai lebih detail, atau malah menyampaikan cerita itu pada orang lain.
Tampaknya kecil, tapi sebenarnya kita sudah melakukan satu langkah pengendalian diri atas dasar kesadaran akan kelemahan pribadi, yang membawa pada sikap rendah hati, dan diwujudkan dengan usaha matiraga untuk mengatasinya.
- Menjadi seperti anak kecil dalam hal kesederhanaan, kejujuran, dalam mengenali dan menerima semua peraturan dan hukum Allah.
Kesederhanaan dan kejujuran seorang anak kecil adalah kesederhanaan dan kejujuran yang gembira. Anak kecil memang belum kenal kelemahan dan kekuatannya sendiri, maka, dia mudah tergoda dan sulit fokus pada satu hal saja. Namun demikian, karena kesederhanaan dan kejujuran yang gembira itulah, Beata Maria Ines pun berkata, “Aku akan berusaha menjadi sederhana, tanpa pura-pura, tanpa berusaha untuk tampak baik atau menjadi yang terbaik” (f. 1265). Dia merasa tenang menjadi dirinya sendiri, karena dia tahu, orang tuanya mencintai dia apa adanya, memaafkan bila dia berbuat salah. Sikap ini sangat dituntut Yesus: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak-anak, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 18:3).
Sikap ini membantu kita menjauh dari godaan kekuasaan, kompetisi yang tidak sehat, kesombongan, dan ketidakjujuran.
Misal: Saya harus membuat tulisan untuk diserahkan sebagai syarat lulus satu mata kuliah. Tapi saya tidak terlalu menguasai topik yang diminta, dan saya malas membaca dan mendalaminya. Saya tahu, dengan AI masalah saya dapat diselesaikan dengan mudah, bahkan mungkin tulisan itu sampai bisa mendapat pujian. Tapi kesadaran akan nilai kejujuran dan otentisitas akhirnya membuat saya mengalahkan godaan ‘kemudahan’ dan ‘pujian’.
- Semua demi menyenangkan Allah dan keselamatan banyak jiwa.
Menolak godaan sering kali berlawanan dengan keinginan daging, berarti menolak ‘kenyamanan’, sering kali juga berarti memilih yang bertentangan dengan yang aku suka. Beata Maria Ines mengatakan bahwa ada jasa besar dalam bermatiraga; jasa yang bisa ‘diuangkan’ untuk membeli banyak jiwa demi Kerajaan Surga. Menolak godaan sering kali berarti kurban, tapi kurban akan menjadi lebih berharga ketika kita mempersembahkannya demi cinta kepada Allah dan demi keselamatan jiwa-jiwa.
Misal: Setelah melewati satu hari yang panjang dan melelahkan karena banyak masalah di kantor, saya tergoda untuk cepat-cepat beristirahat dan pergi tidur, tanpa mendoakan Rosario seperti niat saya. Tapi, demi menyenangkan Allah dan demi orang-orang yang mungkin telah berkontribusi membuat saya lelah hari ini, saya akan berdoa Rosario juga untuk mereka.
Jadi, jangan berusaha menolak godaan hanya sekedar supaya tidak berbuat dosa, tapi tolaklah godaan demi cinta kepada Allah dan demi keselamatan jiwaku dan jiwa sesamaku.
Bersama Yesus, yang memberi teladan mengalahkan godaan iblis di padang gurun, Dia yang selalu bisa diandalkan asal kita sungguh percaya dan memohon rahmat-Nya, marilah kita menjalani masa Prapaskah ini dengan gembira. “Marilah kita mendaki menuju bukit Kalvari dengan senyum di bibir, sebab kita yakin bahwa kita akan bangkit bersama Dia” (Beata Maria Ines, f. 1353).
Sr. Carla Nugroho, M.C.


1 Comment
Anastasia Deku
Terimakasih atas artikel renungan ini…
Di dalam perjalanan hidup saya, saya sering mengalami godaan oleh manusiawi misalkan sebuah kerajaan begitu… ketika kerjaan ku belum selesai tapi saya sudah rasa ngantuk sekali.dan saya sudah berusaha untuk jangan tidur dulu.🙏