Di suatu pagi, tampak tiga remaja sedang bercakap-cakap di bawah pohon di taman sekolah. Mereka adalah Ananta, Belinda, dan Caca. Rupanya mereka sedang berbagi tentang pelajaran dari guru Agama dengan tema yang sangat menarik. Percakapan dimulai dari Belinda yang menanyakan sesuatu.
Belinda :
Kalian masih ingat tidak pelajaran yang kemarin dari guru agama kita tentang Santo Yosef? Terus terang saja ya, saya tidak terlalu mengenal St. Yosef. Yang saya tahu, dia adalah seorang tukang kayu, suami Bunda Maria, dan sekaligus sebagai bapak pengasuh Tuhan Yesus. Apakah ada hal lain yang kalian ketahui? Saya kok penasaran!
Ananta :
Ada! Saya cerita ya. Santo Yosef sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Setiap malam sebelum tidur, kami sekeluarga berdoa kepada Tuhan dengan perantaraan St. Yosef. Memang benar kata Belinda, St. Yosef adalah suami Bunda Maria dan bapak pengasuh Yesus; tapi selain itu St. Yosef adalah seorang Santo besar. Paus Pius IX menetapkan St. Yusuf sebagai pelindung Gereja Semesta, pelindung dari para bapak keluarga, para buruh, para tukang kayu, dan juga pelindung kematian yang bahagia.
Belinda :
Kenapa dia menjadi banyak pelindung? Yang saya tahu, satu orang Santo atau Santa menjadi satu pelindung saja…
Caca :
Nah… itulah hebatnya Santo Yosef! Begini… St. Yosef sebagai pelindung Gereja Semesta, karena dalam seluruh hidupnya, dia selalu melindungi Bunda Maria dan Yesus dari segala marabahaya. Kalian pasti masih ingat kisah pengungsian ke Mesir, bagaimana dengan segala cinta yang dimilikinya, St. Yosef berjalan di samping keledai melindungi Maria dan Yesus dari serangan binatang yang mungkin bisa terjadi saat itu, juga menjaga mereka dari panas dan dinginnya cuaca. Jelaslah St. Yosef saat itu menjadi pelindung bagi keluarganya. Maka sampai sekarang pun dia tetap menjadi pelindung keluarga besarnya, yaitu Gereja, karena Yesus sebagai Kepala Gereja dan kita anggota tubuh-Nya. Allah mempercayakan Maria dan Yesus pada perlindungan Santo Yosef. Maka, di saat Gereja mengalami masa-masa gelap dan sulit, tidak diragukan lagi, St. Yosef pasti juga mengulurkan tangan untuk menolong Gereja yang merupakan tubuh Kristus sendiri. Santo Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai “pelindung yang tak pernah lelah”.
Belinda :
Wow… ternyata St. Yosef luar biasa ya! Baru tahu saya. Terus… apa lagi?
Ananta :
St. Yosef sebagai pelindung para bapak keluarga, para buruh dan para tukang kayu karena kita tahu dari penjelasan tadi kalau St. Yosef adalah kepala keluarga dari Maria dan Yesus. Seorang kepala keluarga yang baik tentu memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. St. Yosef, seperti bapak keluarga di masanya, tentu juga mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari, jangan sampai mereka kelaparan, memenuhi kebutuhan sandang dan papan bagi mereka. Dengan profesinya sebagai tukang kayu, St. Yosef dengan gembira dan cinta, giat bekerja setiap hari. Kesulitan, kegagalan dan kejatuhan dalam kerja tentu juga ada selayaknya manusia yang bekerja keras, memeras keringat untuk mencari nafkah. Semua itu dilakukannya dengan diam, hening tanpa banyak kata. Namun dalam keheningan dan ketersembunyian itulah, dia memberikan diri seutuhnya pada Tuhan dan orang-orang yang sangat dicintainya, yaitu Maria dan Yesus. St. Yosef yang sangat manusiawi itu mengerti perasaan para bapak keluarga, pekerja dan buruh yang mencari nafkah bagi keluarganya, bahkan mungkin ada yang harus berpisah, pergi ke luar kota demi keluarga yang dicintainya, karena dia juga telah mengalaminya sendiri. St. Yosef siap mendengar keluh kesah mereka, siap menolong mereka yang mau datang padanya, dia siap melindungi mereka asal mereka bekerja dengan tanggung jawab, tulus, dan jujur. St. Yosef adalah seorang pekerja yang tulus, tidak mencari pamrih, bekerja dalam ketersembunyian di bengkel, bukan dalam keramaian dan popularitas. Dia memberi teladan bekerja keras, bukan kemalasan.
Sementara mereka sharing dengan semangat, terdengar lonceng tanda masuk kelas.
Belinda :
Ya… lonceng sudah bunyi, padahal lagi semangat nih mendengarnya. Tapi baiklah mari kita masuk kelas dulu, nanti jam istirahat kita lanjutkan ya… Selamat belajar!
Ananta dan Caca:
Ok! Dengan senang hati, Belinda. Sampai jumpa nanti!
Sr. Andrea Venty, M.C.

