Umumnya, menunggu itu membosankan. Namun, tidak untuk kali ini; yang ada justru rasa dag-dig-dug saat pesan WA yang masuk mengatakan bahwa mereka hampir tiba. Rasa gembira, gugup, dan haru menjadi satu begitu mobil dengan plat L membunyikan klakson di depan pintu tanda bahwa ada seorang yang datang.

Kami menyambut dengan sukacita, sembari menyanyikan lagu Una Sonrisa sebagai bentuk ungkapan selamat datang pada para suster yang baru tiba di Novisiat. 3 Suster yang datang ialah Sr. Lucy, M.C., Sr. Elisheba, M.C., Sr. Francisca, M.C. Kedatangan para suster membuat suasana di Novisiat terasa makin berbeda. Sukacita yang dibawa menambah sukacita yang telah ada. Kegembiraan dan semangat tetap terpancar dari masing-masing para suster yang datang, meskipun ada titik-titik keletihan yang samar-samar terlihat di wajah.

Rasa letih tak dihiraukannya, para para suster tetap manampakan senyuman yang menawan, menularkan kepada kami masing-masing, apalagi kepada saya yang merasakan dag dig dug der. Alunan lagu kami kumandangkan di kapel sebagai ungkapan rasa syukur atas segala berkat yang kami telah kami terima daripada-Nya.

Sukacita berlanjut di kamar makan, berkumpul dan bercerita, walaupun bahasa yang berbeda, tak menghalangi kami untuk bertukar cerita. Terimakasih Sr.Francisca yang telah menjadi malaikat penerjemah bagi kami untuk kelancaran dalam berkomunikasi.

Segala pekerjaan yang kukerjakan sepanjang hari telah saya persembahkan pada Tuhan sebagai buah bungaran, hingga malam harinya saat di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan di atas altar yang suci, aku bersujud sembari mendengarkan permenungan yang dibawakan oleh Sr. Lucy, berkisah tentang panggilan Samuel. Tuhan memanggil saya dengan nama saya pribadi, maka sayalah yang harus menanggapinya, saya merasa takjub akan renungan yang dibawakan Sr. Lucy, karena dapat membawa saya untuk melihat kembali panggilan saya pertama kali saat saya mendengar nama saya disebut.

Saya ingin mencontoh semangat dan kesetian dari para suster senior, yang tetap setia pada panggilan walaupun banyak tantangan yang datang menghadang, banyak lika-liku yang harus dilalui. Saya percaya dan yakin bahwa saya pun dapat menjadi seperti mereka, setia selalu dalam mengikuti jalan panggilan Tuhan.

Permenungan malam hari ini ditutup dengan pertanyaan reflektif; dalam keheningan malam saya harus dapat mendengar suara Tuhan yang mau mengatakan apa pada saya, apa yang ingin Tuhan sampaikan pada saya. 

Dari tema yang diberikan para suster, saya merefleksikannya bahwa dalam komunitas, dimana kami yang berbeda- beda baik dalam budaya, keluarga, bahasa dipersatukan sebagai keluarga dalam Kongregasi Misionaris Claris yang tak pernah membedakan dan melihat perbedaan dari masing-masing anggota, hingga akhirnya membentuk sebuah keluarga yang amat mendamaikan dan mendukung. Ketika berdinamika dalam kelompok untuk melihat tahapan hidup Beata Maria Ines, saya merefleksikan betapa perjuangan dan lika-liku yang yang dihadapi oleh beliau amat sangat panjang dan berat untuk sampai pada titik berdirinya Kongregasi Misionaris Claris ini. Beata Maria Ines dapat melampaui ini semua hanya karena kekuatan cinta dan kepercayaan pada Yesus Ekaristi. Hati Kudus Yesus aku percaya kepada-Mu.

Terimakasih Tuhan atas segala berkat-Mu, perjumpaan yang singkat bersama para suster memberikan sesuatu yang bermakna dalam hidupku. Saya merasa sangat terharu sekaligus bahagia, karena merasakan cinta yang luar biasa, saya merasa dikuatkan dan merasa diberi suntikan vitamin penguat dalam menjalani panggilan.

Ignatia Ellis Valentine (Novis Suster Misionaris Claris)

Tambahkan Komentar Anda