Kata ini sangat biasa kita dengar; dan ketika kita membaca atau mendengar kata ini, tentu pikiran kita langsung tertuju pada orang yang meninggal dan meninggalkan harta bagi anak-anaknya.
Tapi apakah hanya warisan material yang bisa diturunkan kepada sang penerus?
Hari-hari ini, dalam Misa Kudus, kita mendengarkan bacaan Injil yang dimulai dengan kalimat: “Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya…”. Inilah warisan yang ingin ditinggalkan Yesus kepada para murid-Nya. Kata-kata ini tidak diucapkan Yesus saat Ia dalam keadaan sakrat maut, namun dalam suatu perjamuan pesta, pesta paskah lama yang menjadi baru karena Yesus memberikan diri-Nya sendiri untuk menjadi santapan.
Dalam Injil Yohanes bab 14 sampai 18, Yesus tidak hanya memberi pesan namun juga terladan, janji, dan berdoa bagi para murid-Nya, bukan hanya bagi mereka yang saat itu berada bersama-sama dengan Dia, namun juga bagi kita masing-masing yang hidup di jaman ini. Salah satu warisan yang Yesus tinggalkan diungkapkan-Nya dalam kata-kata: “…tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Cinta dan persahabatan yang Yesus berikan, bukan hanya dalam kata-kata namun kita bisa merasakan bagaimana persahabatan yang murni itu, Yesus lakukan selama hidup-Nya.

Persahabatan dengan keluarga di Betania: Lazarus, Martha dan Maria, suatu persahabatan yang sangat mendalam bukan berdasarkan untung rugi namun persahabatan yang membawa dan menguatkan mereka untuk melaksanakan Kehendak Bapa di Surga, memberi kemuliaan kepada Allah. Ketika Lazarus meninggal dan Yesus pergi ke makam, tahu bahwa sahabat-Nya telah meninggal, Yesus pun menangis sehingga orang-orang yang melihat-Nya berkata; “Lihatlah, betapa kasih-nya kepadanya” (Yoh. 11:36).
Persahabatan Yesus dengan Petrus, merupakan persahabatan yang mengampuni. Petrus, rasul yang berani memberikan nyawa untuk membela Yesus, namun ketika menghadapi kesulitan malah melarikan diri, bahkan sampai menyangkal Yesus. Tapi kita dapat melihat suatu persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang mampu memaafkan. Meskipun Petrus menyangkal-Nya, namun Yesus memaafkan dan menyatakan betapa sebenar Ia mencintai Petrus. Yesus bertanya kepadanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? … Gembalakan domba-domba-Ku” (bdk. Yoh. 21:15-17). Yesus tidak hanya mengampuni, melainkan sampai mempercayakan kawanan domba-Nya.

Persahabatan Yesus dengan Rasul Yohanes juga merupakan suatu hubungan yang demikian mendalam, persahabatan penuh kepercayaan. Di bawah kaki Salib, Yesus mempercayakan ibu-Nya kepada Yohanes. Jika bukan karena hubungan yang demikian erat, akankah Yesus menyerahkan pemeliharaan sang ibu kepada murid-Nya?
Persahabatan Yesus juga menghibur, meyakinkan, menguatkan, seperti yang dialami oleh para murid yang berjalan pulang ke Emaus. Bagaimana dalam persahabatan itu Yesus menguatkan, menghibur, mencerahkan keragu-raguan, ketidakpastian, dan membuka mata untuk menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita karena sejak awal Ia telah dinyatakan sebagai Emanuel, Allah beserta kita.
Yesus juga menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya. Lalu, sampai seberapa jauh kita tahu apa yang telah diberitahukan Yesus tentang Bapa-Nya kepada kita? Jika Yesus telah memilih kita menjadi sahabat-Nya, apakah kita juga melaksanakan perintah-Nya yaitu; “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh. 15:17). Alangkah indahnya dunia ini jika kita semua tahu melaksanakan apa yang telah Yesus tinggalkan pada kita dalam wasiat-Nya.
Sr. Rina Rosalina, M.C.

