Hari itu suasana Kota Yerusalem dipenuhi dengan sorak-sorai. Di sepanjang jalan orang-orang  melambaikan daun-daun palma, menghamparkan jubah dan bersorak, “Hosana, Putera Daud, terberkatilah yang datang dalam nama Tuhan!” Itulah saat di mana Yesus memasuki Kota Yesrusalem dengan menunggangi seekor keledai. Sang Raja datang dengan ketenangan dan sederhana.

Di tengah kerumunan itu ada seorang wanita yang juga dengan diam dan tenang mengikuti, memperhatikan semua yang terjadi saaat itu. Bunda Maria, ibunda Sang Raja. Hatinya saat itu mulai bergejolak. Nubuat Simeon yang sudah lama terpendam, tiba-tiba muncul kembali di benaknya. Ada rasa syukur, bangga, dan sekaligus cemas serta takut. Dalam hati dia bertanya, “Apa yang akan terjadi dengan Yesus?” Bunda Maria tahu, Yesus bukan hanya manusia biasa, melainkan sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungggih Allah, Kerajaan-Nya pun bukan sebatas di dunia ini seperti yang di sangka oleh orang banyak yang sedang bersorak itu. Ajaran yang diberikan-Nya adalah kasih, damai serta rela berkurban, yang menjadi pertentangan orang-orang di saat itu. Namun Bunda Maria tetap diam dan tenang. Bunda Maria mengajarkan bahwa iman tidak selalu terungkap dengan banyak kata namun diam yang penuh makna dan cinta.

Setelah perayaan itu hari-hari di Yerusalem tetap tampak ramai, namun hati Maria tetap tenang dan hening. Maria melihat bagaimana Yesus mengajar, menyembuhkan orang serta menegur orang dengan kasih. Maria tidak hanya melihat, tapi juga hadir di mana Yesus melakukan semua itu di Yerusalem. Kehadiran Maria tidaklah mencolok namun dia dengan setia mengikuti Yesus. Dari ibu yang terkasih ini kita belajar bahwa mencintai Tuhan tidak harus dengan melakukan karya besar, namun bisa dengan setia melakukan hal-hal kecil setiap hari yang tidak menarik banyak perhatian orang.

Kamis malam, Yesus berkumpul dengan para murid, yang tanpa mereka sadari itulah malam terkahir perjamuan bersama Sang Guru. Maria tidak ada di situ, namun hatinya selalu bersatu dengan hati Putranya. Sebagai seorang ibu, Maria tahu bahwa Yesus sangat mengasihi para murid-Nya, bahkan dia rela menyerahkan dan memberikan hidupnya bagi mereka semua. Itu juga yang dilakukan Maria sejak menerima kabar dari Malaikat Gabriel, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Cinta sejati selalu memberi diri dengan kasih, bahkan ketika memberi berarti kehilangan.

Tibalah hari, di mana nubuat Simeon terpenuhi dalam diri Bunda Maria, hatinya tertusuk oleh pedang. Maria melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus menderita hari itu, ditinggalkan para murid, diludahi, dipukuli, dicambuk ditambah dengan harus mengangkat kayu palang di pundak-Nya. Bayangkanlah seorang ibu yang melihat Putranya yang tidak bersalah disiksa. Bunda Maria mengikuti semua kejadian itu dengan hati yang hancur. Setiap langkahnya terasa berat. Dia ingin menolong Yesus seperti waktu kecil ketika Yesus jatuh, Maria dengan segera menggendong dan mengobati-Nya. Tapi sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan para algojo mengusirnya dengan kasar. Sampai akhirnya dia berdiri di bawah salib Yesus. Maria tetap tegak, tidak ada teriakan, pemberontakan maupun protes keluar dari mulutnya. Hanya air mata yang terus mengalir di pipinya. Dalam diam dan hening Maria menyerahkan semua kepada Allah. Bunda Maria mengajarkan kesetiaan dalam iman tidak berarti manghilangkan penderitaan, tapi bagimana kita memberi makna dari penderitaan itu sendiri dan tetap berdiri di saat semua terasa gelap.  

Sabtu Suci menjadi hari berduka bagi Maria, para rasul dan semua orang yang mencintai Tuhan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Makam sudah tertutup. Para rasul dicekam oleh rasa ketakuatan yang luar biasa, bingung. Orang yang mereka andalkan sudah mati dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Tapi Maria adalah seorang yang penuh iman; dia tetap tenang, percaya pada janji Tuhan. Hening dan menunggu dengan penuh harapan. Bunda Maria mengajarkan bahwa harapan tidak selamanya tampak oleh mata manusia, namun tetap hidup dan menyala dalam hati orang yang percaya.

Tibalah saat Minggu Paska yang dinantikan. Maut dikalahkan oleh Kebangkitan Tuhan. Harapan tidak mengecewakan. Sukacita Kebangkitan memenuhi hati para rasul yang mulai berani mewartakan semua ajaran Yesus secara terus terang tanpa ada rasa takut. Kegembiraan memenuhi seluruh dunia. Kebangkitan menjadi jawaban atas kesetiaan orang beriman yang menjalani dengan sabar.

Bunda Maria,

Terima kasih untuk teladan kesetiaanmu sampai di bawah salib.

Meskipun semua tampak sia-sia, engkau tetap percaya.

Dari “Ya” sederhana itu terlaksanalah penebusan umat manusia.

Bantulah kami pun supaya berani mejawab “Ya” pada undangan Tuhan.

“Ya” yang setia, sederhana dan cinta yang melahirkan keselamatan.

 

Sr. Andrea Venty, M.C.

Tambahkan Komentar Anda